BISNIS.HOTNEWS.ID - Bank Indonesia (BI) mengamati adanya percepatan signifikan dalam implementasi transaksi perdagangan bilateral antara Indonesia dan China yang kini makin banyak menggunakan mata uang lokal kedua negara. Perkembangan ini merupakan indikasi nyata dari upaya bersama kedua negara untuk mengurangi ketergantungan finansial terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Mekanisme yang digunakan dalam percepatan ini adalah Local Currency Settlement (LCS), yang memungkinkan pembayaran langsung menggunakan Rupiah dan Yuan. Hal ini sejalan dengan strategi diversifikasi instrumen pembayaran internasional yang terus didorong oleh otoritas moneter kedua negara.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, secara spesifik menyampaikan data mengenai pertumbuhan volume transaksi melalui skema LCS tersebut. Data ini menunjukkan tren peningkatan yang substansial dalam beberapa waktu terakhir.

Destry Damayanti mengungkapkan bahwa volume transaksi melalui mekanisme Local Currency Settlement (LCS) antara Indonesia dan China telah mencapai angka US$9 miliar pada bulan Mei 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Angka tersebut, yang setara dengan sekitar Rp161,57 triliun, dihitung berdasarkan asumsi kurs yang berlaku pada waktu pencatatan tersebut. Kurs yang digunakan sebagai dasar perhitungan adalah Rp17.953 per dolar AS.

"Volume transaksi melalui mekanisme Local Currency Settlement (LCS) antara Indonesia dan China telah mencapai angka US$9 miliar pada bulan Mei 2026," ungkap Destry Damayanti. Pernyataan ini menggarisbawahi keberhasilan implementasi kerja sama keuangan bilateral.

Percepatan penggunaan Rupiah dan Yuan dalam perdagangan ini secara tegas membuktikan bahwa upaya dedolarisasi dalam konteks hubungan ekonomi Indonesia-Tiongkok semakin nyata implementasinya. Hal ini memberikan alternatif penting dalam sistem pembayaran global.

Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, peningkatan ini menegaskan komitmen kedua belah pihak untuk memperkuat stabilitas nilai tukar domestik masing-masing, mengurangi risiko fluktuasi kurs dolar AS terhadap Rupiah maupun Yuan.

Pencapaian volume transaksi sebesar itu menjadi tolok ukur keberhasilan kebijakan yang telah diterapkan oleh Bank Indonesia dan mitra sejawatnya di Tiongkok dalam memfasilitasi transaksi lintas batas yang lebih efisien.