BISNIS.HOTNEWS.ID - Polemik mendalam mengenai penyaluran gas bumi tertentu (HGBT) yang diperuntukkan bagi industri bergejolak hebat pada pertengahan tahun ini. Situasi ini dipicu oleh penurunan pasokan gas pipa yang signifikan.
Menghadapi kekurangan pasokan, para pelaku usaha terpaksa mengambil langkah darurat. Mereka harus beralih membeli liquefied natural gas (LNG) komersial yang telah melalui proses regasifikasi untuk menjaga kelangsungan operasional.
Data terbaru dari Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) menunjukkan gambaran suram. Pemenuhan alokasi gas pipa HGBT kini hanya mampu menutupi sekitar 27,5% dari kuota awal.
Situasi memburuk dengan proyeksi realisasi yang anjlok ke level 46% pada awal tahun 2026 mendatang. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi keberlangsungan industri.
Akibatnya, pelaku usaha tidak lagi dapat menikmati harga gas industri sebesar US$7/MMBtu sesuai ketentuan HGBT. Mereka terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan pasokan.
Harga gas yang dibayarkan melonjak drastis, mencapai kisaran US$20 hingga US$23 per MMBtu. Kenaikan ini jelas memberatkan sektor manufaktur.
Kenaikan harga yang mencapai 285% dari tarif dasar HGBT ini menempatkan sektor manufaktur pada posisi yang sangat terjepit. Beban operasional yang meningkat tajam menjadi ancaman nyata.
Kondisi ini memicu potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diperkirakan akan berdampak pada sekitar 55.000 karyawan. Nasib ribuan pekerja kini berada di ujung tanduk.
"Polemik penyaluran gas murah untuk industri melalui program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) muncul pada pertengahan tahun ini setelah pasokan gas pipa mengalami penurunan drastis," demikian dilaporkan Bloomberg Technoz.