BISNIS.HOTNEWS.ID - Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan ketiga terhadap Iran pada hari Sabtu, 11 Mei. Keputusan militer ini diambil sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap sebuah kapal komersial di Selat Hormuz.
Komando Sentral AS (CENTCOM) mengumumkan operasi militer tersebut, yang kemudian diunggah ulang oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di akun resminya di platform X.
"Iran telah membuat keputusan yang buruk. Sekarang mereka harus menanggung akibatnya," tulis Pete Hegseth, merujuk pada pengumuman CENTCOM mengenai operasi militer yang dilancarkan.
Sebelumnya, pada hari yang sama, CENTCOM menyatakan bahwa pasukan AS melancarkan serangan udara tersebut. Tuduhan ini dilayangkan setelah Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) diduga menyerang kapal motor komersial M/V GFS Galaxy.
Kapal kargo tersebut berbendera Siprus dan mengalami kerusakan parah akibat kebakaran di atas kapal serta kerusakan pada ruang mesinnya. Insiden ini dilaporkan menyebabkan seorang kru sipil hilang.
Pihak militer Amerika Serikat menegaskan bahwa perintah untuk melakukan operasi pengeboman ini datang langsung dari Presiden Donald Trump. Tujuan utama dari tindakan ini adalah untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menargetkan pelaut sipil dan mengganggu jalur pelayaran komersial.
Serangan balasan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz. Maraknya kembali serangan terhadap kapal komersial telah memperburuk perselisihan antara Washington dan Teheran mengenai jaminan kebebasan navigasi.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran global yang sangat krusial bagi perdagangan internasional, sehingga menjamin kelancaran navigasi di kawasan ini menjadi prioritas utama bagi Amerika Serikat.
Dikutip dari Bloomberg Technoz.