BISNIS.HOTNEWS.ID - Bank Sentral Eropa (ECB) secara resmi mengumumkan penyesuaian suku bunga acuan utama untuk kali pertama dalam kurun waktu hampir tiga tahun terakhir. Keputusan moneter ini diambil setelah adanya kekhawatiran serius mengenai tingkat inflasi yang terus meningkat di kawasan Euro.
Langkah pengetatan kebijakan moneter ini merupakan respons langsung terhadap peringatan dari Gubernur ECB, Christine Lagarde. Beliau menekankan bahwa kenaikan inflasi yang awalnya berpusat di sektor energi kini telah merembet secara signifikan ke berbagai sektor perekonomian lainnya.
ECB memutuskan untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sehingga suku bunga acuan kini berada di level 2,25% dari posisi sebelumnya yakni 2%. Keputusan ini sejalan dengan prediksi mayoritas ekonom serta ekspektasi pasar finansial yang telah mengantisipasi kenaikan sebesar seperempat poin.
Proyeksi pasar mengindikasikan adanya potensi kenaikan suku bunga lanjutan sebesar seperempat poin lagi, yang diperkirakan akan terjadi pada bulan September mendatang. Meskipun demikian, ECB menegaskan bahwa mereka tidak terikat secara kaku pada komitmen jadwal di masa depan.
Bank sentral kawasan Euro ini menegaskan bahwa mereka siap menavigasi ketidakpastian pasar yang sedang terjadi dengan posisi kebijakan yang tetap kuat. Hal ini menunjukkan komitmen untuk menjaga stabilitas harga di tengah tekanan inflasi yang berkelanjutan.
Presiden Christine Lagarde memberikan keterangan kepada para jurnalis di Frankfurt mengenai latar belakang keputusan yang diambil pada hari Kamis, 11 Juni 2026. Beliau menjelaskan bahwa guncangan inflasi kini telah menyebar ke seluruh lini perekonomian.
"Guncangan ini mulai meluas ke seluruh lini perekonomian, di mana biaya langsung terlihat jelas dan biaya tidak langsung juga mulai bermunculan," ujar Presiden Christine Lagarde. Pernyataan ini menggarisbawahi sifat inflasi yang kini semakin kompleks dan sulit dikendalikan.
Lagarde juga menolak anggapan bahwa keputusan yang diambil secara bulat tersebut merupakan sebuah langkah yang terburu-buru. Keputusan ini diambil setelah melalui pertimbangan matang mengenai risiko jangka panjang terhadap stabilitas harga di Eropa.
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa penundaan tindakan justru akan menimbulkan risiko yang jauh lebih besar bagi perekonomian kawasan. "Karena jika Anda membiarkan inflasi mulai melonjak tanpa kendali, situasinya akan jauh lebih sulit untuk dikembalikan ke tingkat stabilitas harga," tambah Lagarde.