BISNIS.HOTNEWS.ID - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui bahwa belum banyak perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) sepanjang tahun 2026. Fenomena ini menjadi perhatian di tengah upaya memperkuat pasar modal nasional.
Direktur Penilaian BEI, Saidu Solihin, menjelaskan bahwa kehadiran emiten berkapitalisasi besar memang krusial untuk meningkatkan kedalaman, likuiditas, dan daya tarik pasar modal Indonesia secara keseluruhan. Namun, dinamika pasar saham tidak semata-mata bergantung pada jumlah atau ukuran IPO.
"Keputusan untuk melantai di bursa merupakan keputusan bisnis masing-masing perusahaan yang mempertimbangkan kesiapan internal sekaligus momentum pasar," ujar Saidu Solihin. Ia menambahkan bahwa situasi serupa juga terjadi di pasar berkembang lainnya, bukan hanya di Indonesia.
Menurut Saidu Solihin, strategi BEI saat ini bergeser dari sekadar mengejar jumlah atau ukuran IPO. Prioritas utama kini adalah membangun fondasi perusahaan yang kuat sebelum dan sesudah mereka menjadi perusahaan terbuka.
"Yang lebih penting adalah membangun pasokan perusahaan tercatat yang berkualitas, berkapitalisasi sehat, memiliki tata kelola yang baik, dan mampu bertumbuh setelah IPO," tegas Saidu Solihin. Hal ini menunjukkan fokus pada keberlanjutan pertumbuhan emiten.
Dinamika pasar yang ada saat ini mengharuskan setiap perusahaan untuk cermat dalam mengambil keputusan IPO. Kesiapan internal perusahaan, mulai dari struktur permodalan hingga tata kelola, sangat menentukan keberhasilan melantai di bursa saham.
Selain itu, momentum pasar yang tepat juga menjadi faktor penentu. Keputusan untuk go public seringkali dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro dan sentimen investor yang sedang berlaku.
BEI terus berupaya menciptakan iklim pasar modal yang kondusif, tidak hanya untuk emiten besar namun juga bagi perusahaan yang sedang berkembang. Fokus pada kualitas diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor dan stabilitas pasar dalam jangka panjang.
"Fenomena ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terlihat di sejumlah pasar berkembang lainnya," kata Saidu Solihin, menggarisbawahi bahwa tantangan ini bersifat global.