BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan dinamika yang menarik pada bulan Mei 2026, di mana belanja konsumen justru mengalami akselerasi positif. Tren ini terjadi bersamaan dengan melonjaknya laju inflasi yang tercatat sebagai yang tercepat dalam kurun waktu lebih dari tiga tahun terakhir.

Hal ini mengindikasikan bahwa daya tahan masyarakat AS dalam mempertahankan tingkat konsumsi masih cukup kuat, bahkan di tengah gejolak ekonomi global seperti dampak dari perang yang sedang berlangsung dengan Iran. Data resmi mengenai kinerja ekonomi ini dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi (BEA) pada hari Kamis tanggal 25 Juni.

Indikator utama yang menjadi sorotan adalah Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau PCE, yang merupakan tolok ukur inflasi acuan bagi Bank Sentral AS (Federal Reserve). Angka PCE tercatat melonjak signifikan sebesar 4,1% secara tahunan (year-on-year).

Kenaikan 4,1% pada indeks PCE ini merupakan catatan inflasi tertinggi yang dicapai oleh AS sejak bulan April tahun 2023 lalu. Angka tersebut menjadi perhatian utama para analis kebijakan moneter di Washington.

Sementara itu, ketika komponen yang lebih fluktuatif seperti harga energi dan bahan pangan dikeluarkan, inflasi inti AS menunjukkan kenaikan sebesar 3,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka inflasi inti ini juga tetap berada pada level yang cukup tinggi.

Meskipun tekanan harga meningkat, data menunjukkan bahwa belanja konsumen yang telah disesuaikan dengan perubahan harga atau inflasi berhasil tumbuh sebesar 0,3% pada bulan Mei. Pertumbuhan ini terjadi setelah bulan sebelumnya, yakni April, sempat tercatat mengalami stagnasi.

Rentetan data positif pada sisi belanja dan inflasi yang tinggi ini diprediksi akan memberikan tekanan lebih lanjut kepada Federal Reserve (The Fed) untuk mempertimbangkan kembali kebijakan suku bunga acuan mereka dalam beberapa waktu ke depan. Ada kemungkinan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini.

Dilansir dari Bloomberg News, artikel ini ditulis oleh Augusta Saraiva. Penulis berita tersebut mencatat bahwa meskipun upaya negosiasi damai antara AS dan Iran berhasil meredam harga minyak mentah dunia, para ekonom masih memperkirakan kenaikan harga produk-produk eceran akan terus merambat naik. Hal ini disebabkan oleh efek domino dari guncangan sektor energi sebelumnya yang masih terasa dalam rantai pasok global.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Bloombergtechnoz. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.