BISNIS.HOTNEWS.ID - Konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memanas dengan serangkaian serangan udara yang dilancarkan kedua belah pihak hingga Sabtu. Moskow mengklaim telah menghantam sejumlah pelabuhan strategis di Ukraina, sementara Kyiv dilaporkan membalas dengan serangan drone ke wilayah Rusia.
Serangan Rusia dilaporkan menyasar kapal-kapal yang sedang melakukan aktivitas bongkar muat di pelabuhan Odesa. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa sasaran mereka termasuk sebuah kapal kontainer yang mengangkut amunisi dan kapal pengangkut curah yang membawa muatan untuk kebutuhan militer Ukraina.
Informasi mengenai detail serangan Rusia di Odesa ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga. Namun, dampak serangan tersebut terlihat di lapangan.
Gubernur wilayah Odesa, Oleh Kiper, mengonfirmasi adanya kerusakan pada sebuah kapal sipil yang berbendera Kepulauan Marshall. "Sebuah kapal sipil berbendera Kepulauan Marshall mengalami kerusakan dan terbakar dalam serangan terhadap pelabuhan-pelabuhan tersebut," ujar Oleh Kiper, seperti dikutip dari Interfax-Ukraine.
Akibat serangan tersebut, dilaporkan ada korban luka di kalangan awak kapal sipil. "Empat awak kapal terluka dalam insiden ini," tambah Oleh Kiper, sebagaimana dilansir dari Interfax-Ukraine.
Di sisi lain, Ukraina dilaporkan melancarkan serangan balasan menggunakan drone ke beberapa wilayah Rusia. Target serangan drone Kyiv ini dilaporkan menyebabkan kerusakan pada fasilitas penyimpanan milik salah satu raksasa e-commerce Rusia.
Otoritas setempat melaporkan bahwa dua gudang milik Wildberries, platform belanja daring terbesar di Rusia, mengalami kerusakan akibat serangan drone Ukraina. Gudang yang terdampak berada di wilayah Moskow dan di kota Kotovsk, wilayah Tambov, yang berjarak sekitar 480 kilometer di tenggara ibu kota.
Serangan drone di wilayah Tambov dilaporkan menimbulkan korban jiwa. Gubernur Yevgeny Pervyshov menyatakan bahwa "Tujuh orang tewas dan 25 lainnya terluka di wilayah Tambov," menurut laporan Interfax.
Serangan ini menambah daftar panjang eskalasi konflik yang terus berlanjut, dengan kedua negara saling melancarkan serangan yang menargetkan infrastruktur militer maupun sipil. Ketegangan di kawasan Laut Hitam dan wilayah daratan kedua negara diperkirakan akan terus berlanjut seiring memanasnya kembali situasi.