BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan terbaru di kawasan Timur Tengah menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada harga minyak mentah global. Kenaikan ini terjadi menyusul berlanjutnya aksi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap wilayah Iran.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat mengalami lonjakan impresif. Kenaikan harga ini membawa patokan minyak internasional tersebut mencapai level tertinggi dalam kurun waktu dua pekan terakhir.
Informasi mengenai berlanjutnya serangan ini dikonfirmasi langsung oleh Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command atau Centcom). Konfirmasi tersebut menyatakan bahwa operasi militer Amerika Serikat di Iran telah memasuki hari kedua.
Redmi Note 17 Pro Segera Debut di China, Bawa Baterai Raksasa 9.000 mAh dan Garansi Eksklusif
Dilansir dari Bloomberg News, kenaikan harga ini semakin diperparah dengan pernyataan dari otoritas tertinggi Amerika Serikat. Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan damai sementara yang sempat berlaku kini telah resmi berakhir.
Pernyataan Presiden Trump menimbulkan kekhawatiran serius di pasar energi global. Hal ini terutama berkaitan dengan potensi gangguan terhadap kelancaran pasokan minyak mentah dari salah satu produsen energi terbesar di dunia tersebut.
Pada penutupan perdagangan hari Rabu, kontrak berjangka Brent menunjukkan peningkatan signifikan. Tercatat, harga Brent melonjak hampir mencapai 7% dari penutupan sebelumnya akibat dinamika geopolitik yang memanas.
Lebih lanjut, pada sesi perdagangan hari yang sama, harga kontrak Brent sempat melewati ambang batas psikologis penting. Harga minyak mentah jenis Brent bahkan sempat menembus angka US$80 per barel sebelum ditutup.
Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga menunjukkan tren kenaikan yang kuat. Kontrak WTI berhasil menguat sebesar 6% seiring dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Mengenai perkembangan pasar ini, penulis Mia Gindis dan Alex Longley menyampaikan bahwa "Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam dua pekan di tengah berlanjutnya serangan Amerika Serikat terhadap Iran," Dikutip dari Bloomberg News.