BISNIS.HOTNEWS.ID - Sebuah penelitian mutakhir mengungkap bahwa ketika sekelompok agen kecerdasan buatan (AI) saling berinteraksi, mereka mulai mengembangkan seperangkat norma sosial dan konvensi komunikasi yang menyerupai kultur dalam masyarakat manusia. Temuan signifikan ini dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Science Advances dan menjadi sorotan media internasional.

Perkembangan menarik ini terungkap melalui sebuah eksperimen di mana beberapa model AI ditempatkan dalam lingkungan virtual bersama untuk menyelesaikan serangkaian tugas yang kompleks. Para agen AI tersebut berhasil menemukan aturan penggunaan bahasa dan konvensi bersama tanpa adanya instruksi eksplisit dari para peneliti manusia.

Para ilmuwan mengamati bahwa perilaku kolektif yang muncul pada kelompok AI tersebut tidak dapat dijelaskan hanya dengan menganalisis karakteristik individual dari setiap agen yang terlibat. Saat interaksi terjadi dalam skala besar, norma-norma baru mulai tumbuh secara spontan dari dinamika kelompok tersebut.

Fenomena ini sangat mirip dengan proses pembentukan budaya, kebiasaan, atau istilah slang yang hanya dipahami oleh anggota komunitas manusia tertentu. Perkembangan ini menandakan bahwa AI memiliki potensi untuk menciptakan bentuk budaya digitalnya sendiri di masa depan.

Salah satu hasil eksperimen yang paling mencolok adalah kemampuan agen AI untuk menciptakan konvensi penamaan secara mandiri dalam sebuah permainan yang dikenal sebagai naming game. Dalam permainan tersebut, agen-agen AI ditugaskan untuk menentukan nama atau istilah bagi objek-objek tertentu yang mereka temui.

Seiring berjalannya waktu interaksi, agen-agen tersebut mencapai kesepakatan kolektif mengenai istilah yang akan digunakan, meskipun tidak ada aturan yang secara eksplisit memaksa mereka untuk menyepakati satu nama. Proses ini disebut sangat menyerupai kelahiran dan penyebaran kata atau istilah populer di kalangan komunitas manusia.

Dikutip dari Nature, para ilmuwan bahkan mulai menggunakan istilah 'masyarakat AI' untuk menggambarkan fenomena kompleks di mana model AI yang berinteraksi dalam kelompok dapat mengembangkan norma sosial layaknya komunitas manusia.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Social Network Analysis and Mining menunjukkan bahwa kelompok agen yang dibangun di atas model bahasa besar (LLM) cenderung membentuk struktur sosial internal yang terorganisir. Agen-agen dengan preferensi atau karakteristik serupa akan lebih sering berinteraksi, membentuk subkultur digital yang terpisah.

"Saat berinteraksi dalam jumlah besar, muncul norma baru yang berkembang secara kolektif," ujar salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan terkait.