BISNIS.HOTNEWS.ID - Kondisi pasar komoditas pangan kembali menunjukkan dinamika harga yang cukup signifikan, terutama pada komoditas daging ayam ras. Penurunan harga di tingkat peternak kini berdampak langsung pada harga jual eceran yang dirasakan oleh konsumen di pasar tradisional maupun modern.
Fenomena penurunan harga ini tidak hanya dirasakan oleh para pelaku usaha di hilir, tetapi juga memicu kekhawatiran di kalangan peternak ayam pedaging mengenai keberlangsungan usaha mereka. Mereka secara terbuka menyampaikan keresahan atas kondisi harga jual yang kian tertekan dalam beberapa waktu terakhir.
Data resmi dari Kementerian Perdagangan, melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), memberikan gambaran konkret mengenai tren penurunan tersebut. Data Harga Nasional Tertimbang (HNT) per tanggal 26 Juni 2026 menunjukkan pergerakan harga yang cenderung melemah.
Menurut pembaruan data tersebut, harga rata-rata daging ayam ras secara nasional tercatat berada di level Rp35.800 per kilogram pada hari itu. Angka ini merefleksikan penurunan tipis sebesar 0,16% dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Sebagai perbandingan, sehari sebelumnya, yaitu pada 25 Juni 2026, harga rata-rata daging ayam ras masih berada sedikit di atas, yakni pada level Rp35.858 per kilogram. Meskipun persentase penurunannya kecil, tren ini mengonfirmasi pelemahan harga yang sedang berlangsung.
Jika melihat rentang waktu yang lebih panjang, yakni selama sebulan terakhir, terlihat jelas bahwa tren harga daging ayam ras memang terus bergerak menuju ke bawah. Pelemahan harga ini menunjukkan adanya potensi kelebihan pasokan atau faktor permintaan yang menurun.
Pada penutupan bulan Mei lalu, tepatnya per 29 Mei 2026, harga rata-rata daging ayam ras masih terpantau stabil di kisaran Rp37.921 per kilogram. Hal ini menunjukkan bahwa dalam rentang waktu kurang dari satu bulan, terjadi penyusutan harga yang cukup signifikan.
"Peternak teriak harga ayam di kandang anjlok," menggarisbawahi situasi sulit yang dihadapi oleh produsen di hulu rantai pasok. Penurunan tajam di tingkat peternak ini kemudian secara otomatis menekan harga jual di tingkat pengecer, seperti yang tercermin dalam data SP2KP.
"Penurunan ini juga diikuti dengan harga jual daging ayam di pasar," menegaskan bahwa efek domino dari anjloknya harga di kandang telah sampai kepada konsumen akhir. Kondisi ini memberikan keuntungan jangka pendek bagi daya beli masyarakat.