BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan harga minyak mentah dunia menunjukkan tren penurunan signifikan belakangan ini, didorong oleh dua faktor utama yang saling menguatkan di pasar energi global. Faktor pertama adalah sinyal dari aliansi OPEC+ mengenai kesiapan mereka untuk meningkatkan volume pasokan minyak mentah ke pasar internasional.

Faktor kedua yang turut menekan harga adalah membaiknya kondisi logistik energi di jalur perairan strategis Selat Hormuz. Aktivitas pengiriman minyak dan gas di koridor vital tersebut dilaporkan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada hari Minggu kemarin. Pemulihan ini terjadi sehari setelah sempat terjadi kebingungan di mana beberapa kapal dilaporkan melakukan putar balik atau pengalihan rute tanpa adanya alasan yang jelas di jalur tersebut.

Dampak dari perkembangan ini langsung terlihat pada pergerakan harga komoditas energi utama. Minyak mentah jenis Brent tercatat mengalami pelemahan dan kini diperdagangkan di bawah level psikologis US$72 per barel. Sementara itu, harga minyak patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga ikut terkoreksi dan tertahan di kisaran harga US$68 per barel.

Di sisi kebijakan pasokan, negara-negara anggota OPEC+ telah mencapai kesepakatan untuk mendukung kenaikan kuota produksi secara moderat untuk bulan mendatang. Keputusan ini merupakan langkah lanjutan dalam melonggarkan pembatasan produksi yang telah diberlakukan oleh kelompok tersebut selama beberapa tahun terakhir untuk menstabilkan pasar.

Secara spesifik, tujuh negara produsen utama yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia telah menyepakati penambahan pasokan kolektif sebesar 188.000 barel per hari. Meskipun tambahan volume ini saat ini masih berada dalam tahap rencana di atas kertas, keputusan tersebut memperjelas ambisi kelompok ini untuk meningkatkan produksi seiring dengan normalisasi situasi geopolitik di kawasan penghasil minyak.

Perkembangan di Selat Hormuz sangat krusial karena merupakan jalur vital untuk sebagian besar perdagangan minyak dunia. Pemulihan lalu lintas kapal tanker di sana didukung oleh tercapainya kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran baru-baru ini.

Dilansir dari Bloomberg News, penulis Yongchang Chin menyampaikan bahwa harga minyak Brent telah mengalami penurunan yang cukup substansial, jatuh sedalam 30% selama kuartal kedua tahun ini. Penurunan tajam ini terjadi sejalan dengan optimisme pasar atas pemulihan cepat lalu lintas di Selat Hormuz, meskipun proses pemulihan total belum sepenuhnya tercapai.

Kekhawatiran pasar kini bergeser menuju potensi kelebihan suplai (glut) minyak mentah di masa depan. Sebagai respons terhadap tren penurunan harga ini, bank-bank investasi besar di Wall Street mulai memproyeksikan penurunan harga lebih lanjut pada paruh kedua tahun ini.

Salah satu proyeksi datang dari Citigroup Inc, yang memberikan sinyal akan potensi tekanan harga lebih lanjut. Citigroup Inc memprediksi bahwa "harga minyak bisa kembali menyentuh level US$60 per barel pada akhir tahun nanti," ujar perwakilan bank tersebut.