BISNIS.HOTNEWS.ID - Qantas Airways Ltd. tengah berupaya keras menemukan solusi atas tantangan kelelahan yang inheren dalam perjalanan udara jarak sangat jauh, terutama untuk rute ambisius mereka yang akan datang. Maskapai asal Australia ini berinvestasi besar dalam memodifikasi pesawat Airbus SE A350-1000 yang dipesan khusus untuk meningkatkan kenyamanan penumpang dalam penerbangan yang diperkirakan memakan waktu mendekati 20 jam.

Salah satu modifikasi signifikan pada pesawat baru ini adalah penataan ulang konfigurasi kabin, di mana Qantas memutuskan untuk menyediakan lebih banyak kursi premium dibandingkan konfigurasi kelas ekonomi standar. Keputusan ini didasarkan pada asumsi bahwa penumpang bersedia membayar lebih untuk memastikan perjalanan yang hampir dua puluh jam tersebut dapat dilalui dengan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi.

Untuk mengatasi dampak fisik dari penerbangan panjang, Qantas telah merancang area khusus di dalam kabin yang disebut sebagai zona kesehatan. Zona ini diperuntukkan sebagai ruang komunal bagi penumpang untuk melakukan aktivitas fisik ringan, seperti berjalan-jalan atau melakukan peregangan.

Area kesehatan ini setara dengan beberapa baris kursi biasa, namun difungsikan sebagai tempat interaksi sosial dan pemulihan singkat bagi penumpang yang ingin meregangkan tubuh. Konsep ini dirancang untuk meminimalkan rasa kaku dan kelelahan yang sering dialami dalam penerbangan lintas benua tanpa henti.

Maskapai tersebut baru-baru ini memamerkan prototipe konsep kabin inovatif ini di Toulouse, Prancis selatan. Lokasi tersebut merupakan tempat di mana Airbus, pabrikan pesawat, sedang merakit armada selusin jet yang akan menjadi tulang punggung bagi ambisi penerbangan nonstop Qantas.

Proyek penerbangan nonstop antara Sydney dan London ini bukan sekadar ujian operasional bagi maskapai, tetapi juga merupakan ujian ketahanan ekstrim bagi penumpang yang akan mengalaminya. Qantas telah mencanangkan rute ini sejak satu dekade lalu dan kini menargetkan koneksi langsung perdana tersebut dapat terealisasi mulai tahun depan.

CEO Qantas, Vanessa Hudson, menyampaikan pandangan strategis perusahaan mengenai tantangan kesehatan dalam penerbangan jarak jauh tersebut. Beliau menekankan bahwa riset mendalam telah dilakukan sebelum menentukan desain akhir pesawat.

"Kami telah mempelajari dampak perjalanan jarak jauh pada tubuh, dampak jet lag pada tubuh," ujar CEO Qantas Vanessa Hudson di Toulouse pada 17 Juni.

Dilansir dari Bloomberg News, pengembangan konsep kabin ini menunjukkan komitmen maskapai untuk memimpin inovasi dalam segmen penerbangan ultra-jarak jauh. Upaya ini diharapkan dapat menetapkan standar baru dalam mitigasi masalah kesehatan yang timbul akibat perubahan zona waktu yang drastis.