BISNIS.HOTNEWS.ID - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) secara terbuka mengakui adanya disparitas signifikan antara hasil lulusan lembaga pendidikan dengan tuntutan dinamis dunia kerja saat ini. Pengakuan ini muncul sebagai respons terhadap masukan dari berbagai pemangku kepentingan industri.

Hal ini merupakan tanggapan langsung atas catatan kritis yang disampaikan oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) beberapa waktu lalu. Apindo menyoroti bahwa kurikulum di berbagai jenjang pendidikan formal dinilai belum sepenuhnya adaptif terhadap perkembangan kebutuhan sektor usaha.

Lokasi pernyataan ini terkonfirmasi di Jakarta, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz, yang mengangkat isu penting mengenai kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) nasional.

Kemnaker menggarisbawahi bahwa ketidakselarasan ini berdampak langsung pada tingkat kompetensi pekerja yang memasuki pasar tenaga kerja di Indonesia. Isu kesenjangan keterampilan atau skills gap menjadi tantangan utama pengembangan SDM.

Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, memberikan konfirmasi mengenai posisi kementerian terkait masalah ini saat dihubungi pada hari Kamis, 25 Juni 2026. Beliau menyampaikan bahwa permasalahan ini adalah isu yang serius bagi pengembangan SDM.

"Kami sependapat bahwa salah satu tantangan utama pengembangan SDM Indonesia adalah masih adanya kesenjangan antara kompetensi yang dihasilkan lembaga pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja yang berkembang sangat cepat," ujar Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi.

Namun demikian, Cris Kuntadi menekankan bahwa solusi untuk menutup kesenjangan keterampilan tersebut tidak bisa hanya bertumpu pada pembaruan kurikulum formal semata. Dunia usaha kini membutuhkan jenis kompetensi yang sifatnya lebih fleksibel dan cepat beradaptasi.

Menurut pandangan Kemnaker, industri modern memerlukan pendekatan yang lebih aplikatif dan praktis bagi para calon pekerja. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme tambahan di luar ruang kelas konvensional.

Diperlukan adanya wadah atau sistem yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman kerja konkret di lapangan. Hal ini bertujuan agar mereka memiliki keterampilan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan industri terkini.