BISNIS.HOTNEWS.ID - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam gesekan yang berpotensi memengaruhi stabilitas jalur pelayaran global. Situasi ini memicu kekhawatiran akan dampak terhadap pasokan minyak dunia.
Peristiwa ini terjadi di tengah dinamika geopolitik yang kompleks di kawasan Timur Tengah. Sejarah mencatat bahwa ketegangan antara kedua negara kerap kali memicu fluktuasi harga komoditas energi.
Dalam konteks ini, para ekonom memproyeksikan bahwa meskipun harga minyak mentah akan mengalami kenaikan, levelnya diperkirakan tidak akan menyentuh kembali angka US$100 per barel. Hal ini didasari oleh berbagai faktor yang memengaruhi pasar global.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core), Mohammad Faisal, menyatakan bahwa eskalasi konflik yang semakin intens antar kedua negara memang akan mendorong pasar minyak untuk merespons dengan peningkatan harga.
Namun, Mohammad Faisal menambahkan, "Harga minyak mentah bakal kecil kemungkinannya untuk kembali meroket ke level US$100 per barel." Beliau melihat bahwa pasar global telah menunjukkan adaptasi yang signifikan.
Faisal menjelaskan bahwa banyak negara kini telah mengambil langkah strategis untuk mendiversifikasi sumber impor minyak mereka. Upaya ini menjadi kunci utama mengapa lonjakan harga ekstrem mungkin dapat dihindari.
"Nah, sehingga ketergantungannya itu sudah sedikit demi sedikit berkurang menurut saya karena saya pikir banyak negara sadar bahwa kawasan ini menjadi sorotan dari sisi stabilitas ya, jadi artinya tidak stabil ya, sehingga sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungannya terhadap pasokan dari Selat Hormuz," ujar Mohammad Faisal ketika dihubungi pada Senin, 13 Juli 2026.
Proyeksi ini menunjukkan bahwa ketegangan yang baru-baru ini kembali terjadi antara AS dan Iran akan menyebabkan kenaikan harga minyak mentah. Namun, kenaikan tersebut diprediksi hanya akan berada pada level yang terbilang terbatas.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, analisis ini menekankan pada ketahanan pasar energi global terhadap gejolak geopolitik spesifik di Selat Hormuz.