BISNIS.HOTNEWS.ID - Menurut data terbaru yang dirilis oleh Bank Dunia, upaya global untuk mengatasi salah satu tantangan polusi paling signifikan dalam industri minyak dan gas justru menunjukkan kemunduran. Praktik pemborosan energi melalui pembakaran gas metana tercatat mengalami peningkatan signifikan di berbagai belahan dunia.
Data tersebut memperlihatkan bahwa volume gas yang dibakar oleh produsen bahan bakar fosil di seluruh dunia meningkat sebesar 6% sepanjang tahun 2025. Peningkatan ini terjadi meskipun industri telah berulang kali menyampaikan komitmen untuk mengurangi praktik yang dianggap boros tersebut selama beberapa tahun terakhir.
Kenaikan volume pembakaran gas ini mencapai angka 167 miliar meter kubik selama periode tersebut. Sebagai gambaran, volume ini setara dengan sekitar setengah dari total konsumsi gas tahunan yang dibutuhkan oleh seluruh benua Eropa.
Dampak lingkungan dari peningkatan pembakaran ini sangat besar, sebab praktik tersebut melepaskan lebih dari 500 juta ton gas rumah kaca ke atmosfer. Emisi ini bahkan melebihi total emisi tahunan yang dihasilkan oleh seluruh negara Inggris Raya.
Pembakaran gas ini, atau yang dikenal sebagai flaring, umumnya dilakukan ketika gas alam muncul bersamaan dengan ekstraksi minyak mentah. Kondisi ini terjadi karena keterbatasan infrastruktur, seperti tidak tersedianya pipa, fasilitas pengolahan yang memadai, atau tidak adanya pembeli gas di lokasi tersebut.
Praktik pembakaran yang tidak terkontrol ini menghasilkan campuran polutan berbahaya di udara. Polutan tersebut mencakup karbon dioksida (CO2) dan gas metana, yang keduanya berkontribusi besar terhadap pemanasan global.
Selain ancaman iklim, emisi dari pembakaran gas ini juga menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar area operasi migas. Hal ini menimbulkan kekhawatiran kesehatan publik yang mendesak di wilayah-wilayah tersebut.
Dilansir dari Bloomberg, temuan Bank Dunia menggarisbawahi bahwa upaya mitigasi polusi industri ini sedang bergerak ke arah yang kurang optimal. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara janji industri dan implementasi nyata di lapangan.
"Upaya untuk mengatasi salah satu masalah polusi paling pelik di industri minyak justru bergerak ke arah yang salah," menggarisbawahi situasi yang terjadi berdasarkan analisis data terbaru, sebagaimana dikutip dari Bloomberg.