BISNIS.HOTNEWS.ID - Kekurangan tenaga kerja akibat penuaan populasi di Asia mendorong adopsi teknologi robotika canggih, khususnya robot humanoid yang diproduksi oleh perusahaan dari Tiongkok. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan industri akan efisiensi kini mulai mendominasi pertimbangan geopolitik dalam pengambilan keputusan teknologi.
Salah satu lokasi uji coba implementasi teknologi ini adalah Bandara Haneda di Tokyo, Jepang, yang sedang menjajaki penggunaan robot humanoid untuk membantu proses penanganan bagasi. Perkembangan ini disorot sebagai respons langsung terhadap tantangan demografi yang dihadapi Jepang.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, perkembangan ini terjadi seiring dengan meningkatnya tekanan akibat penuaan populasi dan minimnya ketersediaan tenaga kerja di sektor-sektor vital Asia. Prioritas utama bagi negara-negara di kawasan ini adalah menjaga efisiensi dan keberlanjutan operasional bisnis mereka.
Jepang menjadi salah satu negara yang merasakan dampak perubahan demografi paling signifikan, dengan rekor kedatangan wisatawan asing mencapai 42,7 juta orang sepanjang tahun 2025. Bahkan, lebih dari 7 juta wisatawan telah tercatat tiba hanya dalam dua bulan pertama tahun 2026.
Untuk mengatasi kesenjangan tenaga kerja di masa depan, pemerintah Jepang memproyeksikan bahwa negara tersebut akan membutuhkan sekitar 6,5 juta pekerja asing pada tahun 2040 demi mempertahankan target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan.
Kondisi kekurangan tenaga kerja yang akut ini mendorong operator bandara dan perusahaan terkait untuk mencari solusi alternatif melalui otomatisasi, salah satunya adalah robot humanoid dari perusahaan China, Unitree. Robot ini memiliki tinggi sekitar 130 sentimeter dan dirancang untuk melakukan tugas fisik seperti mendorong kargo dan memindahkan barang.
Faktor signifikan lain yang mendorong adopsi adalah harga robot humanoid yang semakin kompetitif, di mana beberapa model Unitree dipasarkan mulai sekitar US$4.900 (sekitar Rp87,35 juta) per unit. Biaya ini dinilai jauh lebih murah dibandingkan biaya mempekerjakan tenaga kerja manusia dalam jangka waktu panjang di Jepang.
Kemajuan pesat teknologi robotika Tiongkok sangat didukung oleh rantai pasok industri elektronik dan kendaraan listrik yang kuat di negara tersebut. Infrastruktur manufaktur berskala besar ini memungkinkan perusahaan Tiongkok memproduksi robot humanoid secara komersial dengan biaya yang lebih rendah dibanding pesaing mereka secara global.
Persepsi publik mengenai robot humanoid juga mengalami pergeseran signifikan sepanjang tahun 2026, di mana fokusnya telah beralih dari sekadar atraksi pameran menjadi kemampuan nyata dalam menjalankan pekerjaan berat di lingkungan operasional sehari-hari.