BISNIS.HOTNEWS.ID - Perhatian dunia kini tertuju pada Turki di mana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan akan melangsungkan pertemuan bilateral dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Pertemuan penting ini akan dilaksanakan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang diselenggarakan pada hari Rabu mendatang.
Agenda pertemuan kedua pemimpin tersebut diperkirakan akan sarat dengan pembahasan isu-isu sensitif yang memicu perbedaan pandangan. Beberapa topik utama yang diperkirakan akan memanaskan diskusi meliputi pandangan Trump mengenai Greenland, isu pengeluaran pertahanan negara-negara Eropa, serta dinamika konflik yang terjadi di Iran.
Adapun kedatangan Presiden Trump di Turki telah terealisasi pada hari Selasa. Sebelum menghadiri KTT aliansi pertahanan tersebut, Trump terlebih dahulu dijadwalkan mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.
Informasi mengenai jadwal kedatangan dan agenda awal Presiden Trump ini disampaikan langsung oleh juru bicara Gedung Putih. Juru bicara tersebut, Anna Kelly, mengonfirmasi kedatangan Trump di Turki pada hari Selasa sebelum KTT berlangsung keesokan harinya.
Hubungan antara Presiden Trump dan Presiden Zelenskyy selama ini digambarkan sebagai hubungan yang memiliki dinamika tersendiri. Zelenskyy diketahui memiliki harapan besar terhadap komitmen yang pernah dilontarkan Trump sebelumnya.
Saat masih berstatus sebagai calon presiden, Trump pernah menyampaikan janji ambisius mengenai penyelesaian konflik antara Rusia dan Ukraina. Ia berjanji akan mengakhiri perang tersebut hanya dalam kurun waktu satu hari begitu ia kembali menduduki kursi kepresidenan.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa janji tersebut belum dapat terwujud, sebuah situasi yang dilaporkan menimbulkan rasa frustrasi tersendiri bagi Presiden Trump. Hal ini menjadi latar belakang penting dalam pertemuan bilateral yang akan datang.
Sementara itu, para pemimpin negara-negara Eropa juga menyuarakan keprihatinan mereka, terutama terkait kurangnya dukungan antusias dari AS terhadap upaya Eropa dalam menghadapi isu Iran. Para pemimpin Eropa mendesak adanya upaya baru bersama antara AS dan Eropa untuk menghidupkan kembali perundingan damai antara Rusia dan Ukraina.
Dilansir dari Bloomberg, Gedung Putih diketahui sangat disibukkan dengan berbagai konflik yang melibatkan Iran selama beberapa bulan belakangan. Kondisi ini secara tidak langsung telah menyebabkan terhentinya proses perundingan damai antara Kyiv dan Moskow yang selama ini dimediasi oleh Amerika Serikat.