BISNIS.HOTNEWS.ID - Situasi menarik terjadi di pasar penerbangan global, di mana harga bahan bakar jet (avtur) di Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengalami penurunan dalam beberapa waktu belakangan ini.

Namun, fenomena penurunan biaya operasional utama ini belum tercermin pada harga akhir yang dibayarkan oleh konsumen, yakni tiket pesawat yang terpantau masih bertahan tinggi.

Kenaikan tarif signifikan sebelumnya sempat terjadi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya perang di Iran, yang menyebabkan harga avtur melonjak drastis.

Kenaikan harga bahan bakar yang berlipat ganda tersebut memaksa perusahaan penerbangan untuk membebankan biaya tambahan tersebut kepada penumpang melalui penyesuaian tarif tiket.

Perusahaan maskapai penerbangan kala itu menyatakan bahwa mereka tidak memiliki opsi lain selain menaikkan tarif untuk menutupi lonjakan biaya operasional yang sangat besar.

Salah satu eksekutif senior industri penerbangan mengungkapkan situasi sulit yang dihadapi perusahaan dalam menjaga stabilitas harga di tengah volatilitas pasar energi.

"Kami tidak punya pilihan," kata CEO Delta Ed Bastian, merujuk pada keharusan membebankan kenaikan biaya bahan bakar kepada konsumen, sebagaimana dikutip dari CNN pada Selasa (30/6/2027).

Hal ini menunjukkan adanya jeda waktu atau faktor lain yang masih menahan penurunan harga avtur untuk segera diteruskan menjadi diskon tiket bagi masyarakat.

Perkembangan ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pengamat industri mengenai struktur biaya dan transparansi penetapan harga tiket pesawat saat ini.