BISNIS.HOTNEWS.ID - Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) baru-baru ini mencapai kesepakatan industri pertahanan dengan nilai fantastis, mencapai setidaknya 50 miliar dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp900 triliun. Kesepakatan masif ini merupakan langkah strategis yang diambil oleh negara-negara anggota.
Tujuan utama dari pengadaan senjata berskala besar ini adalah untuk menunjukkan komitmen serius Eropa kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai pemenuhan target peningkatan alokasi anggaran pertahanan. Langkah ini juga bertujuan meredakan ketegangan yang mungkin timbul akibat desakan AS tersebut.
Pengumuman resmi mengenai nilai kontrak dan rincian awal disampaikan oleh Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Beliau memaparkan poin-poin penting dari kesepakatan tersebut pada hari Selasa, 7 Juli 2026.
Acara presentasi ini berlangsung di Ankara, ibu kota Turki, yang pada pekan tersebut menjadi lokasi penyelenggaraan KTT tahunan para pemimpin negara anggota aliansi militer tersebut. Forum industri pertahanan ini menjadi panggung utama pengumuman tersebut.
Salah satu komponen utama dari total belanja ini adalah kontrak senilai 12 miliar dolar AS yang dialokasikan untuk pengadaan sistem persenjataan modern. Ini mencakup akuisisi drone generasi terbaru, pesawat mata-mata canggih, serta pesawat angkut militer baru.
Menariknya, struktur kontrak ini menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam paradigma pengadaan alutsista Eropa. Beberapa negara anggota mulai memprioritaskan kapabilitas industri pertahanan lokal, bukan lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan dari Amerika Serikat.
Sebagai contoh nyata dari pergeseran strategi ini, sebanyak sebelas negara anggota NATO memutuskan untuk membeli sistem radar deteksi udara dari Saab AB, sebuah perusahaan kedirgantaraan yang berbasis di Swedia. Keputusan ini merupakan pengganti langsung untuk model radar yang sebelumnya dipasok oleh Boeing Co. dari AS.
Seorang diplomat NATO yang enggan disebutkan namanya membisikkan detail mengenai kesepakatan dengan produsen asal Swedia tersebut. "Nilai kesepakatan dengan pabrikan Swedia ini mencapai US$5 miliar," ujar diplomat tersebut.
Meskipun demikian, ketergantungan pada Amerika Serikat belum sepenuhnya terputus, bahkan menguat pada beberapa sektor tertentu. Beberapa kontrak lain justru mempererat hubungan kemitraan dengan produsen pertahanan AS untuk komponen-komponen yang dianggap krusial.