BISNIS.HOTNEWS.ID - OpenAI kini tengah menghadapi gugatan baru atas tuduhan wrongful death atau kematian akibat kelalaian. Gugatan ini diajukan oleh seorang ibu warga negara Kanada yang menuduh platform ChatGPT gagal memberikan lapisan perlindungan yang seharusnya bagi putrinya yang sedang mengalami krisis kesehatan mental.

Penggugat tersebut bernama Kristie Carrier, yang mengajukan tuntutan hukum ini atas nama putrinya, Alice Carrier. Alice meninggal dunia karena bunuh diri pada bulan Juli tahun 2025 yang lalu, menjadi dasar utama gugatan terhadap perusahaan kecerdasan buatan tersebut.

Dokumen gugatan yang telah didaftarkan di pengadilan San Francisco ini menuduh bahwa ChatGPT tidak hanya lalai menghentikan percakapan yang mengandung risiko tinggi terkait bunuh diri, tetapi juga diduga secara aktif memperkuat pola pikir yang berujung pada tindakan tragis tersebut.

Menurut penjelasan dalam gugatan tersebut, Alice Carrier telah beberapa kali mengungkapkan pikiran untuk mengakhiri hidupnya kepada chatbot tersebut sepanjang periode waktu antara tahun 2023 hingga 2024. Keluarga menilai sistem keamanan yang diterapkan oleh OpenAI tidak cukup responsif untuk mendeteksi atau mengeskalasi percakapan sensitif ini ke mekanisme perlindungan yang lebih ketat.

Keluarga juga menyoroti bahwa dalam interaksinya, ChatGPT sempat mengambil peran yang menyerupai teman dekat atau bahkan konselor pribadi bagi Alice, padahal AI tersebut sejatinya tidak memiliki kualifikasi profesional untuk menangani masalah psikologis yang serius.

Kuasa hukum keluarga dalam gugatan tersebut menuduh bahwa keputusan desain yang diambil oleh OpenAI merupakan faktor yang berkontribusi pada terjadinya tragedi yang menimpa Alice. Hal ini menunjukkan adanya dugaan cacat pada rancangan sistem keamanan AI tersebut.

Selain menuntut ganti rugi atas kerugian yang dialami keluarga, pihak penggugat juga mengajukan permintaan agar pengadilan memerintahkan OpenAI untuk segera menerapkan pagar pengaman (guardrails) yang lebih ketat. Langkah ini bertujuan untuk mencegah chatbot terlibat dalam dialog yang berhubungan dengan bunuh diri atau tindakan melukai diri sendiri di masa mendatang.

Dilansir dari Engadget pada hari Jumat (12/6/2026), gugatan ini menyoroti tanggung jawab etika dan hukum pengembang teknologi AI ketika produk mereka berinteraksi dengan pengguna yang rentan secara emosional.

"Keluarga menuduh ChatGPT tidak hanya gagal menghentikan percakapan berisiko tinggi terkait bunuh diri, tetapi juga diduga memperkuat pola pikir yang mengarah pada tindakan tersebut," dikutip dari Engadget.