BISNIS.HOTNEWS.ID - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji langkah strategis untuk menekan beban subsidi energi nasional. Langkah ini difokuskan pada potensi transisi penggunaan bahan bakar dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) menuju Compressed Natural Gas (CNG).
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, secara spesifik menyampaikan bahwa substitusi ini diperkirakan mampu memberikan penghematan fantastis bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Angka efisiensi yang diproyeksikan mencapai nominal Rp30 triliun menjadi sorotan utama dalam wacana ini.
Wacana penghematan ini muncul karena adanya perbedaan fundamental dalam struktur harga antara kedua jenis gas tersebut. Bahlil menekankan bahwa harga CNG secara inheren jauh lebih ekonomis jika dibandingkan dengan LPG yang selama ini masih mendapatkan alokasi subsidi besar dari pemerintah.
Perbedaan harga yang signifikan inilah yang menjadi alasan utama mengapa transisi ini dianggap krusial untuk menekan defisit subsidi energi. Efisiensi yang tercipta diharapkan dapat meringankan beban fiskal negara secara berkelanjutan.
"Yang jelas harganya lebih murah 30% sampai 40% daripada LPG," ujar Bahlil saat ditemui awak media di lingkungan Istana Negara, Jakarta Pusat, pada hari Senin, 6 Juli 2026.
Beliau kemudian merinci kalkulasi potensi penghematan tersebut berdasarkan besaran subsidi LPG yang ada saat ini. Jika rata-rata subsidi mencapai Rp86 triliun hingga Rp90 triliun, maka potensi efisiensi 25% hingga 30% sangatlah nyata.
"Kalau 30-40% sekarang subsidi kita berapa? Rp86 triliun sampai Rp90 [triliun]. Kali rata-ratalah kalau katakanlah 25%, kali 30%, berarti kan [subsidi] Rp27 triliun sampai Rp30 triliun bisa kita lakukan efisiensi," ujar Bahlil, memberikan gambaran kuantitatif dari penghematan tersebut.
Dana yang berhasil dihemat dari pengurangan beban subsidi ini direncanakan untuk dialihkan ke pos-pos anggaran lainnya. Ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas belanja negara.
"Ini kan bisa kita bangun untuk yang lain-lain lagi gitu lho," imbuhnya, menegaskan bahwa efisiensi ini bertujuan untuk mendukung sektor pembangunan yang lebih produktif.