BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan harga emas di pasar global mengalami penurunan signifikan setelah adanya sinyal dari para pejabat Federal Reserve (The Fed) mengenai kebijakan suku bunga di masa mendatang. Langkah ini diambil ketika bank sentral Amerika Serikat tengah mengevaluasi dampak dari eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya Iran, terhadap stabilitas inflasi.

Penurunan harga komoditas berharga ini cukup tajam, di mana emas batangan sempat terperosok sedalam 2,6%. Anjloknya harga ini merupakan reaksi langsung terhadap proyeksi terbaru yang dikeluarkan oleh para pembuat kebijakan di The Fed mengenai arah suku bunga acuan.

Menurut proyeksi tersebut, mayoritas pejabat The Fed masih membuka kemungkinan untuk melakukan pengetatan moneter lebih lanjut. Sebanyak sembilan pejabat memperkirakan akan ada setidaknya satu kali lagi kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase sebelum tutup tahun 2023.

Bahkan, pandangan yang lebih agresif terlihat dari enam pejabat lainnya yang memproyeksikan bahwa kenaikan suku bunga bisa terjadi sebanyak dua kali atau lebih. Hal ini menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap potensi inflasi yang berkelanjutan.

Di sisi lain, terdapat pandangan yang lebih hati-hati di dalam Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Sebanyak sembilan pejabat menyatakan pandangan mereka bahwa suku bunga sebaiknya dipertahankan pada level saat ini, atau bahkan mempertimbangkan kemungkinan untuk dilakukan penurunan.

Keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan federal funds rate pada kisaran 3,5% hingga 3,75% diambil melalui pemungutan suara bulat oleh FOMC. Keputusan ini merupakan pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, yang dilaksanakan pada hari Rabu waktu setempat.

Dilansir dari Bloomberg News, penurunan tajam harga emas ini sejalan dengan sikap hawkish atau cenderung ketat yang ditunjukkan oleh The Fed dalam pertemuan kebijakan moneternya. Penurunan ini dikonfirmasi oleh analisis pasar terhadap hasil proyeksi terbaru.

Yvonne Yue Li sebagai salah satu kontributor berita dari Bloomberg News menyoroti bagaimana sentimen pasar bereaksi terhadap sinyal kenaikan suku bunga yang masih terbuka lebar oleh bank sentral Amerika Serikat.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Bloombergtechnoz. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.