BISNIS.HOTNEWS.ID - Kementerian Keuangan memberikan sinyal positif terkait kondisi fiskal negara ke depan, menyusul adanya prediksi penurunan harga minyak mentah dunia secara berkelanjutan. Prediksi ini menjadi salah satu faktor kunci yang memperkuat keyakinan pemerintah dalam menjaga kesehatan anggaran negara.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa secara spesifik menyampaikan harapannya bahwa tren penurunan harga minyak mentah global akan terus berlanjut dalam periode mendatang. Hal ini merupakan kabar baik mengingat harga energi global sangat berpengaruh pada beban subsidi dan penerimaan negara.

Kepastian fiskal ini kemudian ditegaskan oleh Menkeu Purbaya saat memberikan keterangan pers kepada awak media di kantornya, Jakarta Pusat, pada hari Jumat tanggal 26 Juni 2026. Penegasan ini memberikan kepastian bagi para pemangku kepentingan mengenai stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Purbaya Yudhi Sadewa meyakinkan bahwa posisi fiskal Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang terkendali dan aman dari potensi guncangan besar. Ia menekankan bahwa ruang fiskal semakin terbuka lebar berkat adanya perkembangan positif pada komoditas energi.

Terkait proyeksi tersebut, ia menyatakan dengan keyakinan tinggi mengenai batas defisit anggaran. "Tapi yang jelas, kondisi fiskal aman. Defisit tidak akan melebihi 3%, hampir pasti. Kita bisa kendalikan dengan baik karena ruangnya semakin terbuka lebar," ujar Purbaya saat media briefing di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2026).

Optimisme Menkeu ini didukung oleh data pergerakan harga minyak internasional yang menunjukkan tren melandai di pasar global. Data ini menjadi indikator utama yang dipegang pemerintah dalam menyusun proyeksi makroekonomi jangka menengah.

Dilansir dari Reuters pada hari yang sama, Jumat (26/6/2026), harga minyak mentah jenis Brent yang selama ini menjadi acuan global tercatat mengalami penurunan. Harga Brent terpantau turun tipis sebesar 19 sen atau setara dengan 0,25% menjadi US$ 75,07 per barel pada pukul 00.55 GMT atau 07.55 WIB.

Selain Brent, jenis minyak mentah lain yang juga menjadi patokan penting, yaitu West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat, ikut mengalami koreksi harga. Minyak mentah WTI dilaporkan turun sebanyak 13 sen atau 0,18%, menutup perdagangan di level harga US$ 71,79 per barel.

Penurunan harga minyak dunia ini secara langsung mengurangi potensi beban pengeluaran negara, terutama pada pos anggaran subsidi energi yang selama ini menjadi pos pengeluaran signifikan dalam APBN. Stabilitas harga energi adalah kunci keberhasilan pengendalian defisit APBN sesuai target yang ditetapkan.