BISNIS.HOTNEWS.ID - Asian Development Bank (ADB) baru-baru ini mengumumkan penyesuaian proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk kawasan Asia Tenggara. Proyeksi agregat kawasan tersebut diturunkan tipis menjadi 4,5% dari estimasi sebelumnya yang mencapai 4,6%.

Penurunan proyeksi ini tidak hanya berlaku pada kawasan Asia Tenggara secara umum, tetapi juga mencakup wilayah negara berkembang di Asia Tenggara (Developing Southeast Asia). Penyesuaian ini menunjukkan adanya tantangan ekonomi eksternal yang mempengaruhi kawasan tersebut.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Jakarta, penyesuaian proyeksi ini juga menyentuh proyeksi untuk negara-negara berkembang di Asia Tenggara. Proyeksi pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut direvisi menjadi 4,6% pada tahun 2026 dan akan dipertahankan pada level 4,8% untuk tahun 2027.

ADB mengidentifikasi beberapa faktor utama yang mendorong revisi turun proyeksi kawasan tersebut. Faktor-faktor ini sebagian besar berasal dari dinamika geopolitik dan ekonomi global yang sedang berlangsung.

Menurut lembaga tersebut, konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama. Konflik tersebut dinilai telah menyebabkan melemahnya permintaan eksternal dan meningkatkan ketidakpastian secara global.

Selain itu, gangguan pada rantai pasok global serta kenaikan biaya input produksi dan harga komoditas turut memberikan tekanan signifikan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi kawasan. Hal ini memengaruhi biaya operasional dan harga jual produk.

Meskipun terjadi penurunan proyeksi kawasan sebesar 0,1 poin persentase (pps), ADB menekankan bahwa dampak dari pelemahan ini bervariasi di setiap negara anggota. Beberapa negara mengalami revisi yang lebih substansial dibandingkan yang lain.

Salah satu contoh negara yang mengalami revisi turun adalah Filipina. Penurunan tersebut disebabkan oleh tertundanya realisasi investasi, pelemahan konsumsi swasta akibat harga komoditas yang naik, serta meningkatnya risiko yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Berbeda dengan tren kawasan, proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk Republik Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif stabil. ADB memutuskan untuk mempertahankan proyeksi pertumbuhan Indonesia tanpa perubahan signifikan dari estimasi sebelumnya.