BISNIS.HOTNEWS.ID - Sektor properti nasional kini tengah menghadapi tantangan berat yang bersifat multidimensi. Tekanan tersebut datang dari kombinasi pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing dan kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (Waketum DPP REI), Bambang Ekajaya, dalam keterangannya kepada media. Menurutnya, fluktuasi kurs mata uang secara langsung meningkatkan ongkos pembangunan proyek properti.
Kondisi ini menciptakan dilema signifikan bagi para pengembang, terutama yang fokus pada segmen tertentu. Bambang menjelaskan bahwa dampak kenaikan biaya pembangunan terasa paling signifikan pada segmen properti komersial.
Redmi Note 17 Pro Segera Debut di China, Bawa Baterai Raksasa 9.000 mAh dan Garansi Eksklusif
"Yang utama dari impact ini tuh multidimensional ya, dalam arti gini kita memang properti itu ada segmen ya, segmen menengah bawah, segmen yang atas atau yang komersial. Nah kalau untuk yang komersial sudah pasti akan terkena impact-nya yang paling besar," ujar Bambang Ekajaya.
Alasan utama mengapa segmen komersial menjadi yang paling terdampak adalah ketergantungan tinggi pada komponen impor dalam konstruksi. Komponen mewah dan berteknologi tinggi sering kali harus didatangkan dari luar negeri.
Bambang kemudian merinci beberapa contoh material yang menyebabkan kenaikan biaya tersebut. "Kenapa? Karena sebagian dari komponen itu kan kayak lift, kemudian lantai marmer, dan sebagainya itu kan impor," kata Bambang kepada Bloomberg Technoz, Rabu (8/7/2026).
Lebih lanjut, tekanan biaya pembangunan tidak hanya bersumber dari material impor murni. Material bangunan yang diproduksi di dalam negeri pun ikut mengalami dampak kenaikan biaya.
Hal ini terjadi karena banyak pabrikan domestik masih bergantung pada bahan baku yang diperoleh dari luar negeri dalam proses produksi mereka. Ketergantungan rantai pasok ini membuat biaya produksi lokal ikut terpengaruh depresiasi Rupiah.
Selain isu bahan baku, beban operasional pengembang turut diperberat oleh kenaikan biaya logistik. Distribusi material bangunan yang memiliki bobot besar membutuhkan biaya transportasi yang tinggi.