BISNIS.HOTNEWS.ID - Perusahaan antariksa terkemuka, SpaceX, kini tengah menghadapi fase krusial dalam perjalanannya di pasar modal. Setelah mengalami penurunan selama tiga hari berturut-turut, harga sahamnya dilaporkan semakin mendekati level harga penawaran umum perdana (IPO).

Level harga IPO ini menjadi indikator penting yang dipantau ketat oleh para pelaku pasar, baik trader maupun investor. Mereka menggunakannya untuk mengukur kesehatan awal dari emisi saham baru yang diluncurkan oleh perusahaan.

Pada hari Selasa lalu, saham SpaceX tercatat mengalami penurunan sebesar 2,2%. Penutupan perdagangan hari itu berada di angka US$136,08 per lembar saham.

Angka tersebut hanya berjarak sekitar US$1 dari harga US$135 per lembar yang dibayarkan oleh para pembeli pada penawaran saham perdana bulan lalu. Penawaran tersebut tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah.

Perusahaan yang bergerak di bidang roket, satelit, dan kecerdasan buatan ini telah mengalami depresiasi nilai yang cukup signifikan. SpaceX dilaporkan telah anjlok sepertiga dari titik tertingginya pasca pencatatan saham di bursa.

Penurunan ini secara total telah menghapus nilai pasar perusahaan yang mencapai hampir US$850 miliar. Hal ini menjadi perhatian serius bagi para pemangku kepentingan.

Penurunan harga saham sebuah perusahaan hingga di bawah harga IPO dalam kurun waktu beberapa hari atau minggu setelah hari perdagangan pertamanya dapat memberikan dampak negatif. Hal ini dapat merusak strategi dan ekspektasi yang telah dirancang dengan cermat.

"Penurunan selama tiga hari berturut-turut telah membawa saham SpaceX ke ambang batas untuk jatuh di bawah harga penawaran umum perdana (IPO), sebuah level krusial yang dipantau oleh para trader dan investor untuk menilai kesehatan emisi saham baru," demikian kutipan dari Carmen Reinicke dan Bailey Lipschultz dari Bloomberg News.

"Saham turun 2,2% pada hari Selasa dan ditutup pada US$136,08 per lembar, hanya US$1 di atas harga $135 yang dibayarkan pembeli bulan lalu dalam penawaran saham perdana terbesar sepanjang sejarah," lanjut Carmen Reinicke dan Bailey Lipschultz dari Bloomberg News.