BISNIS.HOTNEWS.ID - Pasca pengumuman hasil evaluasi terbaru dari MSCI, pasar modal Indonesia mencatat adanya perubahan signifikan dalam perilaku investor asing. Tekanan jual bersih (net foreign sell) yang sebelumnya masif mulai menunjukkan tren perlambatan yang cukup berarti.
Aktivitas jual bersih investor asing di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) terlihat mengalami penurunan drastis pada hari perdagangan Kamis, 25 Juni 2026. Penurunan ini menjadi indikasi meredanya sentimen negatif yang sempat mendominasi sehari sebelumnya.
Dilansir dari Tren.Bisnismarket.com, pada hari Kamis tersebut, tercatat bahwa investor asing masih membukukan aktivitas jual bersih. Namun, nominal total yang dicatatkan jauh lebih ringan dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Data perdagangan menunjukkan bahwa total net sell oleh investor asing pada Kamis, 25 Juni 2026, mencapai angka Rp299 miliar. Angka ini merupakan penyusutan yang signifikan dari volume penjualan bersih di hari sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada hari Rabu, 24 Juni 2026, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih dengan nilai yang jauh lebih besar. Angka net sell pada hari Rabu tersebut sempat menyentuh nominal Rp1,171 triliun.
Perbedaan mencolok antara volume jual hari Rabu dengan hari Kamis ini mengindikasikan adanya penyesuaian posisi oleh institusi asing setelah adanya pengumuman resmi dari MSCI. Hal ini menjadi fokus utama pelaku pasar domestik sepanjang pekan ini.
"Aktivitas jual bersih (net foreign sell) yang dilakukan oleh investor asing di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menunjukkan tren penurunan," demikian informasi yang disampaikan mengenai dinamika pasar tersebut. Informasi ini didapat dari Tren.Bisnismarket.com.
Pergerakan ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar saham domestik yang sempat tertekan oleh aksi jual besar-besaran tersebut. Investor domestik kini mulai mencermati langkah-langkah pasca evaluasi MSCI tersebut.
Dikutip dari Tren.Bisnismarket.com, nominal net sell investor asing pada hari Rabu sebelumnya mencapai Rp1,171 triliun, menunjukkan tekanan jual yang sangat kuat saat itu. Angka ini kini telah berkurang menjadi Rp299 miliar pada hari Kamis.