BISNIS.HOTNEWS.ID - Tantangan ekonomi global yang semakin meningkat menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas keuangan berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun, analisis terkini dari lembaga studi menunjukkan bahwa kondisi keuangan domestik masih berada dalam posisi yang relatif aman.

Fokus utama dari penilaian ini adalah menjaga kesehatan fiskal negara di tengah ketidakpastian yang melanda perekonomian dunia saat ini. Kondisi fiskal yang terjaga ini terlihat jelas dari sejumlah indikator makroekonomi yang terpantau positif selama periode ini.

Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menjadi lembaga yang secara aktif menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal tersebut. Hal ini menjadi kabar baik bagi prospek jangka pendek perekonomian nasional.

Piter Abdullah, selaku Policy and Program Director Prasasti, memberikan pandangan spesifik mengenai data pertumbuhan ekonomi yang masih menunjukkan tren positif. Ia menggarisbawahi bahwa pertumbuhan tersebut berada di kisaran 5 persen, sebuah angka yang solid.

Selain pertumbuhan, indikator inflasi juga menjadi sorotan penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas harga secara umum. Angka inflasi tahunan yang tercatat hingga bulan Mei 2026 menunjukkan upaya pemerintah dalam mengendalikan kenaikan harga berhasil.

Menurut Piter Abdullah, tingkat inflasi tahunan yang tercatat pada bulan Mei 2026 berada di angka sekitar 3,08 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini dianggap sebagai cerminan perkembangan harga yang masih terkendali di pasar.

"Jadi kalau kita lihat dari inflasi, kondisi inflasi kita juga masih relatif bagus, yaitu sampai dengan bulan Mei lalu itu, inflasi kita ada di 3,08% year-on-year," ungkap Piter Abdullah.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Piter Abdullah saat berpartisipasi dalam program diskusi "detikSore" pada hari Jumat, tanggal 12 Juni 2026. Piter menekankan bahwa inflasi yang terkendali adalah kunci penting dalam mengukur kesehatan daya beli masyarakat.

Dilansir dari konteks diskusi tersebut, Piter Abdullah menjelaskan bahwa inflasi merupakan salah satu indikator krusial karena secara langsung mencerminkan perkembangan harga barang dan jasa serta dampaknya terhadap kemampuan daya beli masyarakat.