BISNIS.HOTNEWS.ID - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan pandangan terkini mengenai kondisi nilai tukar rupiah yang menunjukkan tren pelemahan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Hingga saat ini, lembaga regulator tersebut menegaskan bahwa stabilitas sistem jasa keuangan di Indonesia masih berada dalam kondisi yang aman.
Pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis pagi (25/6/2026) tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,12 persen. Mata uang domestik ini ditutup pada level Rp17.965 per Dolar AS, menunjukkan adanya tekanan dari pasar global.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, secara aktif memantau perkembangan ekonomi makro global. Pemantauan ini dilakukan karena kondisi global masih dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga komoditas minyak dunia.
Dampak dari ketidakpastian global tersebut terwujud dalam bentuk volatilitas yang tinggi di pasar keuangan internasional. Hal ini secara otomatis memicu penguatan indeks dolar AS (DXY), yang kemudian memberikan tekanan pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
"Untuk saat ini, pelemahan rupiah belum berdampak langsung dan signifikan terhadap stabilitas sistem jasa keuangan," kata Dian Ediana Rae dalam keterangan tertulis yang diperoleh pada Kamis (25/6/2026).
OJK juga menyatakan bahwa mereka terus melakukan pemantauan intensif terhadap kinerja seluruh industri perbankan di Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk memastikan ketahanan sektor perbankan menghadapi guncangan eksternal.
Meskipun stabilitas sistem keuangan terjaga, OJK mengakui adanya potensi dampak tidak langsung dari pelemahan rupiah. Salah satu risiko yang diwaspadai adalah potensi peningkatan biaya produksi di dalam negeri.
Kenaikan biaya produksi ini dapat terjadi akibat naiknya harga barang-barang impor yang harus dibayar dengan dolar yang lebih mahal. Hal ini pada akhirnya dikhawatirkan dapat memengaruhi daya beli dan tingkat inflasi masyarakat secara keseluruhan.
"OJK secara berkelanjutan memantau secara intensif terhadap kinerja industri perbankan," ujar Dian Ediana Rae, sebagaimana dikutip dari Bloomberg Technoz, Jakarta.