BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) kini merambah berbagai sektor, termasuk industri keuangan. JPMorgan Chase & Co. mengambil langkah strategis dalam mengadopsi AI, dengan fokus pada penentuan kapan model yang canggih dan berbiaya tinggi benar-benar diperlukan.

Hal ini diungkapkan oleh Chief Financial Officer (CFO) JPMorgan Chase & Co., Jeremy Barnum, dalam sebuah panggilan konferensi yang membahas hasil keuangan kuartal kedua perusahaan. Ia menekankan pentingnya penggunaan teknologi AI yang proporsional.

"Anda sebenarnya tidak memerlukan model tercanggih dan sangat mahal untuk merangkum laporan analis," ujar Barnum. Pernyataannya ini mencerminkan prinsip perusahaan dalam mengalokasikan sumber daya teknologi.

"Jadi, pada prinsipnya adalah menggunakan model yang tepat untuk tujuan yang tepat," tambah Barnum, menggarisbawahi filosofi penerapan AI yang efisien dan efektif.

Seperti banyak institusi keuangan lainnya, JPMorgan menghabiskan waktu yang signifikan untuk mengevaluasi pengeluaran terkait komputasi kecerdasan buatan, yang sering disebut sebagai biaya "token".

Barnum menjelaskan bahwa biaya token ini diproyeksikan tetap "kecil" untuk paruh pertama tahun 2026. Namun, ada potensi peningkatan signifikan di paruh kedua, meskipun secara keseluruhan tahunan tetap dalam kategori yang relatif kecil.

Dorongan para eksekutif di berbagai industri untuk memanfaatkan AI demi peningkatan produktivitas kini diimbangi dengan kekhawatiran mengenai besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Fenomena ini memicu perdebatan mengenai efektivitas investasi AI.

Beberapa perusahaan bahkan mulai menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan AI di kalangan karyawannya. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap potensi lonjakan biaya operasional yang tidak terduga.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa adopsi AI tidak hanya sekadar tentang implementasi, tetapi juga memerlukan perencanaan strategis yang matang terkait biaya dan manfaat jangka panjang.