BISNIS.HOTNEWS.ID - Perusahaan raksasa hiburan Walt Disney Co. dihadapkan pada tantangan tren penurunan saham selama beberapa tahun terakhir. Namun, sebuah analisis dari Wells Fargo Securities menawarkan solusi strategis yang dinilai berpotensi membalikkan keadaan pasar.

Langkah krusial yang disarankan adalah pertimbangan untuk melepas divisi bisnis layanan streaming video yang dimiliki oleh Disney. Analisis ini didasarkan pada potensi dampak positif terhadap valuasi perusahaan di bursa saham.

Wells Fargo Securities memproyeksikan bahwa divestasi bisnis streaming dapat mendorong harga saham Disney naik signifikan, diperkirakan mencapai sekitar 40%. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk lebih mengarahkan fokus dan sumber dayanya pada aset-aset inti yang memiliki nilai jangka panjang.

Fokus baru ini akan mencakup kekayaan intelektual (intellectual property/IP) yang dimiliki Disney, serta unit bisnis yang berorientasi pada pengalaman konsumen. Contohnya termasuk operasional taman hiburan ikonik dan pengembangan produk-produk terkait yang telah menjadi ciri khas Disney.

Menurut analis Steven Cahall, meskipun layanan streaming sangat diminati oleh konsumen, terutama jika dibandingkan dengan media tradisional seperti televisi dan bioskop, model bisnisnya saat ini tidak memberikan keuntungan substansial bagi para pemegang saham.

"Meskipun layanan streaming sangat populer di kalangan konsumen—terutama dibandingkan televisi tradisional dan penayangan film di bioskop—bisnis tersebut justru tidak memberikan keuntungan bagi para pemegang saham," ujar Steven Cahall.

Kinerja saham Disney dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren yang kurang menggembirakan, dengan nilai yang kehilangan hampir setengahnya. Kontras dengan kondisi ini, indeks S&P 500 justru berhasil melonjak lebih dari 70% dalam periode yang sama.

Steven Cahall berpendapat bahwa keterlibatan Disney dalam bisnis streaming menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kinerja sahamnya tertinggal dibandingkan indeks pasar secara umum.

Lebih lanjut, Cahall menilai bahwa Disney tidak memiliki model bisnis yang sepenuhnya ideal untuk bersaing secara efektif dengan para pemain besar di industri streaming global seperti Netflix Inc. dan YouTube. Persaingan yang ketat di ranah ini menjadi tantangan tersendiri.