BISNIS.HOTNEWS.ID - Sebuah temuan signifikan mengenai dampak implementasi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kerja baru-baru ini terungkap melalui sebuah studi akademis mendalam. Penelitian ini secara khusus menyoroti fenomena peningkatan kesenjangan upah yang terjadi paralel dengan meluasnya otomatisasi berbasis AI.

Penyebab utama dari permasalahan ketidakmerataan ekonomi ini diidentifikasi sebagai konsekuensi langsung dari adopsi teknologi AI yang semakin masif di lingkungan korporat. Dampak negatif ini terutama dirasakan oleh kelompok pekerja yang memiliki keahlian atau keterampilan yang dianggap rendah.

Penelitian tersebut disusun oleh seorang ekonom asal Pakistan, yakni Syed Muhammad Haris Shah, yang melakukan analisis komprehensif terhadap perubahan struktur ketenagakerjaan. Studi ini secara eksplisit mengaitkan peningkatan penggunaan AI dengan erosi stabilitas pekerjaan bagi segmen pekerja tertentu.

Studi berjudul The Impact of Artificial Intelligence on Employment and Wage Inequality ini melibatkan partisipasi dari 350 responden. Responden tersebut berasal dari spektrum sektor industri yang sangat luas, mulai dari teknologi informasi hingga sektor manufaktur.

Selain itu, sektor-sektor kunci lain yang turut menjadi subjek penelitian meliputi layanan kesehatan, keuangan, pendidikan, serta layanan pelanggan. Hal ini menunjukkan bahwa dampak AI tidak terbatas pada satu bidang industri saja, melainkan bersifat sistemik.

Publikasi resmi dari temuan penting ini telah dimuat dalam jurnal ilmiah bereputasi, yaitu Advance Journal of Econometrics and Finance Volume 4 Edisi 2 tahun 2026. Ini memberikan landasan akademis yang kuat bagi analisis dampak sosial ekonomi AI.

Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat penetrasi AI dalam operasional perusahaan telah mencapai level yang cukup tinggi saat ini. "Sebanyak 72,6% responden menyatakan perusahaan mereka telah aktif menggunakan teknologi AI," sebagaimana dikutip dari studi tersebut pada Sabtu (20/6/2026).

Di sisi lain, masih terdapat sebagian kecil perusahaan yang belum sepenuhnya mengintegrasikan teknologi canggih ini ke dalam alur kerja mereka. "Sementara itu, 27,4% lainnya masih dalam tahap terbatas atau belum menerapkan AI secara signifikan," lanjut temuan studi tersebut.

Dikutip dari studi tersebut, temuan ini menggarisbawahi urgensi bagi pembuat kebijakan untuk segera mencari solusi mitigasi kesenjangan upah yang ditimbulkan oleh disrupsi teknologi ini. Perkembangan ini terjadi di tengah sorotan luas terhadap potensi transformasi AI.