BISNIS.HOTNEWS.ID - Bursa saham Wall Street baru-baru ini mengalami pelemahan yang cukup dalam, dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham perusahaan produsen chip. Kekhawatiran utama investor berpusat pada apakah investasi masif dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) akan mampu menjustifikasi valuasi perusahaan yang kini telah membengkak.

Sentimen pasar global juga turut terbebani oleh kembalinya risiko geopolitik yang berpotensi menciptakan ketidakpastian lebih lanjut di pasar finansial. Hal ini menambah tekanan pada indeks-indeks saham utama.

Dalam gelombang volatilitas yang terjadi, indeks yang melacak kinerja saham-saham raksasa di industri chip dilaporkan anjlok sebesar 4,3%. Prospek bisnis yang dinilai solid dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) tampaknya tidak mampu menahan sentimen negatif pasar, terutama setelah perusahaan memproyeksikan peningkatan belanja modal.

Sebagai dampaknya, indeks Nasdaq 100, yang banyak dihuni oleh saham-saham teknologi, turut merasakan tekanan dan turun sebesar 1,6%. Hal ini menunjukkan luasnya dampak aksi jual yang terjadi.

Saham Alphabet Inc., perusahaan induk Google, dilaporkan merosot 4,4% setelah muncul kabar mengenai keterlambatan peluncuran model AI terkuat perusahaan tersebut selama beberapa bulan. Keterlambatan ini menimbulkan pertanyaan tentang kecepatan inovasi di sektor AI.

Lebih lanjut, dalam perdagangan setelah jam bursa, saham Netflix Inc. juga ikut melemah. Prediksi perusahaan mengenai perlambatan pertumbuhan penjualan untuk kuartal kedua berturut-turut menjadi pemicu kekhawatiran investor terhadap kinerja perusahaan.

Para pelaku pasar kini tengah bergulat dengan pertanyaan krusial mengenai apakah saham-saham di sektor teknologi telah mencapai valuasi yang terlalu mahal. Ketidakpastian mengenai kapan belanja AI senilai triliunan dolar akan mulai menghasilkan keuntungan yang signifikan menjadi perhatian utama.

"Empat operator AI terbesar di Amerika Serikat diperkirakan akan menggelontorkan lebih dari US$725 miliar hanya pada tahun ini," demikian dilansir dari Bloomberg. Angka investasi yang masif ini menimbulkan ekspektasi tinggi terhadap pengembaliannya.

Dikutip dari Bloomberg, para pelaku pasar kini bergulat dengan pertanyaan apakah saham-saham teknologi telah menjadi terlalu mahal di tengah ketidakpastian kapan belanja AI senilai triliunan dolar akan mulai menghasilkan keuntungan yang signifikan.