BISNIS.HOTNEWS.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan menghadapi tekanan lanjutan dalam perdagangan pekan mendatang. Kekhawatiran pasar global terhadap kenaikan harga minyak mentah menjadi sentimen negatif utama yang membayangi pergerakan bursa.

Ketegangan di Timur Tengah yang memanas disebut sebagai akar permasalahan lonjakan harga komoditas energi tersebut. Situasi ini memicu aksi jual di pasar saham, menyebabkan seluruh sektor terpantau mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Pada Jumat, 24 Juli 2026, IHSG tercatat mengakhiri sesi dengan koreksi 1,88% ke posisi 6.196,43. Pelemahan ini terjadi setelah sebelumnya sempat menyentuh level 6.400 dalam perdagangan intraday di pekan yang sama.

Seluruh sektor saham turut terdampak sentimen negatif tersebut, dengan sektor cyclical mengalami koreksi terdalam sebesar 3,04%. Hal ini menunjukkan luasnya dampak kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global saat ini.

Kenaikan harga minyak mentah menjadi perhatian serius para pelaku pasar karena berpotensi mengerek kembali laju inflasi global jika tren kenaikan ini terus berlanjut. Dampak inflasi yang tinggi dapat menggerus daya beli masyarakat dan mengganggu stabilitas ekonomi.

Selain itu, sentimen negatif juga diperparah oleh kebijakan Amerika Serikat yang baru saja menerapkan tambahan tarif impor sebesar 10% terhadap sejumlah produk asal Indonesia. Kebijakan ini dapat membatasi akses pasar bagi produk ekspor Indonesia.

"Konflik di Timur Tengah jika berkepanjangan dikhawatirkan akan membuat harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, yang akan berakibat pada meningkatnya kembali laju inflasi global," kata Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah memegang peranan krusial dalam menentukan arah harga minyak dan dampaknya terhadap perekonomian global.

Kenaikan harga minyak mentah yang dipicu oleh ketegangan geopolitik memang menjadi perhatian utama. Hal ini karena potensi lonjakan inflasi global yang dapat mengganggu kestabilan ekonomi secara luas.