BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan signifikan dalam hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah terjadi, ditandai dengan kesepakatan untuk menghentikan serangkaian aksi saling serang di Selat Hormuz. Kesepakatan ini menjadi landasan penting bagi langkah selanjutnya dalam meredakan ketegangan regional yang telah berlangsung lama.
Langkah konkret selanjutnya adalah dijadwalkannya kembali perundingan damai antara kedua negara. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara langsung mengumumkan rencana pertemuan lanjutan ini melalui platform media sosial pribadinya.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada hari Selasa, tepatnya tanggal 30 Juni. Lokasi yang dipilih sebagai tempat penyelenggaraan perundingan penting ini adalah Doha, ibu kota negara Qatar.
"Iran telah mengajukan permohonan untuk mengadakan pertemuan," ujar Trump mengenai inisiatif dimulainya kembali dialog, sebagaimana tertuang dalam unggahannya di platform Truth Social pada hari Senin.
Tidak lama setelah pengumuman tersebut, Gedung Putih memberikan detail lebih lanjut mengenai delegasi yang akan hadir. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan informasi ini kepada Fox News mengenai perwakilan AS.
Leavitt mengonfirmasi bahwa utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, bersama dengan menantu Presiden, Jared Kushner, akan memimpin delegasi AS di Qatar. Mereka ditugaskan untuk memimpin pertemuan tingkat tinggi yang berfokus pada isu Iran.
Selain agenda utama tersebut, terdapat juga rencana untuk menggelar diskusi teknis di sela-sela agenda pertemuan tingkat tinggi. Hal ini menunjukkan upaya komprehensif dalam membahas berbagai aspek permasalahan antara kedua negara.
"Trump sangat ingin melihat proses perdamaian ini berjalan sukses," tambah Karoline Leavitt, menyoroti harapan besar dari pihak AS terhadap hasil dialog di Doha ini.
Namun, di tengah optimisme tersebut, Leavitt juga menyampaikan peringatan keras dari Gedung Putih. "Ia memperingatkan bahwa 'kekerasan akan dibalas dengan kekerasan,'" tegasnya, menggarisbawahi bahwa upaya damai berjalan paralel dengan penegasan prinsip pertahanan diri.