BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan pasar saham Tiongkok pada tahun 2026 menunjukkan tren yang sangat kontras dibandingkan dengan euforia global yang didorong oleh kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). Setelah menikmati tahun yang menjanjikan sebelumnya, bursa di Tiongkok justru mengalami periode performa yang suram tahun ini.

Indeks MSCI China tercatat telah merosot sebesar 15% sepanjang tahun berjalan, menjadikannya salah satu indeks dengan kinerja terburuk di seluruh dunia. Kinerja ini bahkan menempatkannya di posisi terburuk kedua secara global, hanya lebih baik daripada indeks Indonesia.

Keadaan memburuk pada pekan lalu, di mana indeks acuan Tiongkok tersebut diperdagangkan pada level terendah dibandingkan dengan indeks global MSCI. Penurunan ini merupakan titik terendah sejak masa kelam pasca serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat, periode ketika pasar saham AS sempat ditutup selama empat hari.

Dua saham dengan bobot fundamental terbesar di pasar Tiongkok, yaitu raksasa teknologi Tencent dan Alibaba, mengalami tekanan jual yang signifikan. Kedua saham ini telah anjlok lebih dari 29% dari nilai puncaknya.

Dampak dari kejatuhan saham-saham utama ini sangat terasa, dengan kapitalisasi pasar gabungan keduanya terhapus sebesar US$337 miliar. Kerugian sebesar ini memberikan pukulan keras terhadap sentimen investor secara keseluruhan terhadap pasar ekuitas Tiongkok.

Kinerja negatif ini sangat mengejutkan banyak pihak, terutama mengingat optimisme yang sempat menyelimuti pasar pada awal tahun. Sebelumnya, prediksi dari lembaga keuangan besar cenderung positif terhadap prospek bursa Tiongkok.

Dilansir dari Bloomberg, "Pada awal tahun, Goldman Sachs Group Inc sempat memprediksi reli sebesar 20% untuk MSCI China, yang baru saja mencatatkan kenaikan terbaiknya sejak 2017," ujar seorang analis pasar.

Selain Goldman Sachs, lembaga keuangan lain juga menunjukkan keyakinan terhadap pemulihan fundamental Tiongkok. Lombard Odier, misalnya, sempat menaikkan rekomendasi mereka untuk ekuitas negara tersebut menjadi "pilihan utama" (preferred) karena ekspektasi perbaikan kinerja laba perusahaan.

Harapan investor saat itu berpusat pada potensi Beijing untuk membantu pasar lepas dari reputasi buruknya sebagai pasar yang cenderung rentan terhadap siklus boom-and-bust (lonjakan dan kejatuhan ekstrem). Mereka berharap tercipta pertumbuhan yang lebih stabil.