BISNIS.HOTNEWS.ID - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada paruh pertama tahun 2026. Kinerja positif ini menjadi bukti keandalan bank BUMN dalam mengelola bisnisnya di tengah dinamika ekonomi.

Pertumbuhan laba bersih konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp30,4 triliun hingga akhir Juni 2026. Angka ini menunjukkan lonjakan sebesar 24,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara year on year (yoy).

Faktor utama yang mendorong capaian gemilang ini adalah ekspansi bisnis inti yang solid dan peningkatan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income. Kedua elemen ini menjadi pilar utama dalam menopang raihan laba perseroan.

Kinerja impresif ini juga ditopang oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 17,1%. Peningkatan DPK ini kemudian berhasil dikonversi menjadi penyaluran kredit yang lebih agresif, tercatat tumbuh sebesar 19,9%.

"Pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai 17,1% dan berhasil dikonversi menjadi pertumbuhan kredit sebesar 19,9%," ujar Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy BMRI.

Selain itu, ekspansi bisnis yang terukur ini turut berkontribusi pada pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar 8%. Peningkatan NII ini menunjukkan efektivitas manajemen dalam mengoptimalkan aset produktif.

Di sisi lain, Bank Mandiri juga menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga kualitas asetnya. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang berhasil ditekan hingga 0,98%.

Rasio coverage ratio Bank Mandiri tercatat sebesar 242%, yang menunjukkan kemampuan bank dalam menutupi potensi kerugian kredit. Selain itu, cost of credit (CoC) juga tetap terjaga pada level rendah, yaitu 0,52%.

"Bank Mandiri mampu mempertahankan aset kualitasnya dengan baik dan ini juga sejalan dengan strategi Bank Mandiri yang fokus menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang prospektif dan resilient, sekaligus mendorong penguatan ekosistem bisnis dan dukungan kepada agenda strategis pemerintah sebagai agent of development," ujar Novita Widya Anggraini dalam paparan publik secara daring pada Kamis (23/7/2026).