BISNIS.HOTNEWS.ID - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, telah memberikan jaminan tegas mengenai kondisi likuiditas yang kini tersedia dalam jumlah yang sangat memadai di pasar uang domestik maupun sistem perbankan. Pernyataan ini disampaikan menyusul adanya langkah strategis yang diambil oleh otoritas moneter Indonesia baru-baru ini.
Sebagai respons atas ketersediaan likuiditas yang melimpah tersebut, Bank Indonesia memutuskan untuk mengaktifkan kembali jendela lelang instrumen repurchase agreement (repo). Keputusan ini merupakan bagian integral dari upaya bank sentral untuk memperkuat implementasi kebijakan moneter yang ada.
Langkah pembukaan kembali fasilitas repo ini memiliki tujuan ganda yang sangat penting bagi perekonomian nasional. Tujuannya adalah untuk menstabilkan pergerakan nilai tukar Rupiah sekaligus memastikan laju inflasi tetap terkendali sesuai target yang ditetapkan.
Target inflasi yang dimaksud oleh Bank Indonesia adalah berada dalam kisaran 2,5% plus minus 1% untuk periode tahun 2026 dan 2027 mendatang. Hal ini menunjukkan komitmen BI dalam menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas makroekonomi jangka menengah.
Perry Warjiyo secara eksplisit mengutarakan komitmen ini dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juni yang dilaksanakan pada Kamis (18/6/2026). Ia mengajak para pelaku perbankan untuk memanfaatkan fasilitas yang telah dibuka kembali tersebut.
“Kami pastikan likuiditas lebih dari cukup. Kami buka kembali repo [tenor] 3,6,9,12 bulan. Sehingga untuk meyakinkan, silahkan bank dengan aset sekuritas yang ada apakah SBN, SRBI datang ke BI, untuk kami tambah likuiditasnya melalui repo. Dan Alhamdulillah, dan ini kenaikan reponyajuga semakin besar,” kata Perry dalam konferensi pers RDG Juni, Kamis (18/6/2026).
Selain intervensi melalui instrumen likuiditas domestik, bank sentral juga mengambil langkah lain untuk menarik modal asing. BI melanjutkan pemberian insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor internasional sebesar 10%.
Langkah pemberian insentif hedging swap ini secara khusus diarahkan untuk meningkatkan daya tarik Indonesia bagi masuknya pemodal asing. Hal ini berfungsi sebagai kompensasi atas kewajiban yang selama ini ditanggung oleh para investor asing yang menanamkan dananya di pasar keuangan Indonesia.
Perry juga menambahkan mengenai fleksibilitas yang diberikan kepada para pelaku pasar yang memegang mata uang asing. “Demikian juga yang punya valas juga bisa akses untuk swap kita ya swap itu juga untuk menambah likuiditas,” tuturnya.