BISNIS.HOTNEWS.ID - Kepala ekonom dari Bank Permata, Josua Pardede, menyampaikan analisis mengenai harga jual bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang baru ditetapkan. Ia memperkirakan bahwa harga keekonomian yang sesungguhnya untuk Pertamax saat ini berada pada kisaran Rp16.500 per liter.
Hal ini berarti bahwa kenaikan harga Pertamax yang telah diumumkan, yakni dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, masih dianggap berada di bawah nilai pasar yang seharusnya untuk BBM dengan spesifikasi RON 92 tersebut. Kenaikan harga ini merefleksikan dinamika pasar energi global dan domestik yang terjadi belakangan ini.
Josua Pardede menggarisbawahi bahwa meskipun terjadi penyesuaian harga, konsumen masih mendapatkan harga yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan perhitungan biaya riilnya. "Dengan harga jual baru Rp16.250, Pertamax masih dijual di bawah harga keekonomian sekitar Rp250/liter," ujar Josua saat dihubungi pada hari Rabu, 17 Juni 2026.
Analisis ini didasarkan pada beberapa faktor utama yang memengaruhi biaya produksi dan distribusi BBM nonsubsidi tersebut. Salah satu pemicu utama dari tingginya harga keekonomian Pertamax adalah lonjakan signifikan pada harga minyak mentah dunia.
Kenaikan harga minyak mentah global tersebut telah melampaui asumsi yang digunakan dalam perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Asumsi harga minyak mentah dalam APBN ditetapkan pada level US$70 per barel, yang kini terlampaui oleh kondisi pasar riil.
Selain itu, kondisi pasar domestik juga turut memperparah perhitungan biaya keekonomian BBM tersebut. Tekanan depresiasi nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan biaya impor bahan baku.
Kombinasi antara harga minyak mentah yang tinggi dan pelemahan nilai tukar Rupiah menjadi dua variabel utama yang mendorong kenaikan harga keekonomian Pertamax di tingkat konsumen. Hal ini menunjukkan adanya tekanan biaya yang substansial pada perusahaan penyedia BBM.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, analisis ini memberikan perspektif bahwa penyesuaian harga yang dilakukan oleh badan usaha masih menyisakan sedikit ruang subsidi implisit atau belum sepenuhnya mencerminkan biaya pasar murni.