BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan terbaru menunjukkan adanya komitmen bersama antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sangat krusial bagi distribusi minyak dan gas alam global. Keputusan ini diambil setelah selat tersebut mengalami blokade signifikan menyusul pecahnya konflik antara kedua negara pada Februari 2026.
Namun, upaya untuk mengembalikan volume lalu lintas di selat tersebut ke level pra-konflik—seandainya hal itu memungkinkan—diperkirakan akan menghadapi berbagai rintangan besar. Proses normalisasi ini diperkirakan tidak akan berjalan mulus dan membutuhkan waktu pemulihan yang substansial.
Salah satu indikator mengenai kecepatan pemulihan ini dapat dilihat dari prediksi pasar. Pasar prediksi Kalshi telah memberikan penilaian mengenai probabilitas kembalinya aktivitas pelayaran seperti semula.
Pasar tersebut memproyeksikan adanya kemungkinan sebesar 51% bahwa lalu lintas di Selat Hormuz akan kembali normal sebelum tanggal 1 Agustus mendatang. Selain itu, probabilitas ini meningkat menjadi 68% jika batas waktu diperpanjang hingga sebelum 1 September.
Dilansir dari Bloomberg News, hambatan utama yang dihadapi dalam upaya normalisasi ini sangat beragam dan kompleks, memerlukan koordinasi serta waktu yang tidak sebentar. Tantangan-tantangan ini menjadi fokus utama para analis minyak dan logistik global saat ini.
Para analis menyoroti bahwa meskipun ada kesepakatan politik untuk membuka jalur tersebut, aspek teknis dan keamanan operasional masih menjadi pertimbangan serius. Ini mencakup penyesuaian rute pelayaran yang telah terdampak oleh situasi konflik sebelumnya.
"Mengembalikan lalu lintas di selat ke tingkat sebelum perang — jika hari itu pernah tiba — menghadirkan tantangan yang signifikan," ujar Alaric Nightingale dan Paul Burkhardt, penulis artikel asli dari Bloomberg News.
Kondisi infrastruktur maritim dan kesiapan sistem navigasi pasca-konflik juga menjadi variabel penting yang akan memengaruhi kecepatan pemulihan. Hal ini menunjukkan bahwa normalisasi bukan hanya masalah deklarasi pembukaan, tetapi juga implementasi praktis di lapangan.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun langkah maju telah dicapai melalui kesepakatan antara kedua belah pihak, realitas di lapangan menentukan kecepatan pemulihan ekonomi maritim global yang bergantung pada Selat Hormuz.