BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan mengejutkan terjadi di Baghdad mengenai keanggotaan Irak dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), setelah adanya pernyataan kontradiktif dari Kementerian Perminyakan negara tersebut. Isu mengenai kemungkinan Irak angkat kaki dari OPEC kini telah dibantah secara resmi oleh otoritas minyak Irak.

Hal ini terjadi hanya beberapa jam setelah kementerian yang sama sempat mengindikasikan bahwa penarikan diri dari OPEC menjadi opsi yang dapat dipertimbangkan di masa mendatang. Keputusan ini mencerminkan dinamika internal Irak terkait kebijakan produksi minyak global.

Kementerian Perminyakan Irak mengeluarkan pernyataan tegas untuk meluruskan spekulasi yang beredar luas di pasar energi internasional. Mereka ingin memastikan posisi resmi Pemerintah Irak tidak disalahartikan oleh publik maupun mitra dagang.

"Laporan-laporan yang menyiratkan bahwa Irak sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri keanggotaannya di OPEC tidak mencerminkan sikap resmi Pemerintah Irak," tegas Kementerian Perminyakan dalam keterangan resminya.

Lebih lanjut, kementerian tersebut menegaskan bahwa tidak ada diskusi tingkat tinggi yang mengarah pada keputusan drastis tersebut di ibu kota negara tersebut. "Baik Perdana Menteri maupun Pemerintah Irak belum pernah mengusulkan untuk menarik diri dari Organisasi tersebut," bunyi pernyataan tersebut.

Sebelumnya, ketegangan muncul karena adanya prasyarat yang diajukan oleh Baghdad kepada OPEC terkait kapasitas produksi mereka. Jika kesepakatan tidak tercapai, Irak mengancam akan meninjau kembali keanggotaannya.

Pernyataan awal yang memicu kontroversi tersebut berbunyi, "maka keputusan harus diambil mengenai apakah akan tetap menjadi anggota atau keluar," jika OPEC tidak memberikan izin kepada Baghdad untuk meningkatkan produksi minyaknya.

Keputusan untuk menarik kembali ancaman tersebut menunjukkan adanya upaya menjaga stabilitas di dalam OPEC, terutama mengingat Irak merupakan salah satu produsen minyak kunci dalam aliansi tersebut. Keputusan ini diambil di mana pun otoritas kementerian berada.

Pernyataan penarikan ancaman ini disampaikan oleh Kementerian Perminyakan Irak yang berlokasi di Baghdad, sebagaimana dilaporkan oleh Salma El Wardany dari Bloomberg News. Informasi ini menjadi pembaruan penting mengenai posisi Irak di panggung energi dunia.