BISNIS.HOTNEWS.ID - Perairan strategis Selat Hormuz kembali menjadi sorotan internasional setelah terjadi insiden penembakan yang menargetkan kapal-kapal komersial pada Senin malam, 6 Juli. Peristiwa ini diduga keras dilakukan oleh pihak Iran sebagai langkah pengujian terhadap komitmen gencatan senjata yang telah disepakati pada akhir Juni lalu.
Aksi penembakan rudal tersebut dikaitkan dengan klausul dalam perjanjian damai antara Teheran dengan Amerika Serikat (AS). Kesepakatan tersebut mensyaratkan penghentian segala bentuk serangan selama kedua negara tersebut tengah berupaya mencapai perjanjian damai yang lebih substansial.
Dilansir dari Axios, insiden ini menyebabkan kerusakan signifikan pada dua kapal yang menjadi sasaran serangan tersebut. Meskipun demikian, dipastikan bahwa tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat penembakan yang terjadi di jalur pelayaran vital tersebut.
Informasi mengenai kerusakan kapal dan ketiadaan korban jiwa tersebut diperoleh dari keterangan seorang pejabat Amerika Serikat. Pejabat tersebut meminta identitasnya tidak dipublikasikan saat memberikan keterangan mengenai perkembangan situasi ini.
Di sisi lain, lembaga Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) turut mengonfirmasi adanya laporan mengenai insiden di wilayah tersebut. UKMTO menerima notifikasi mengenai sebuah kapal tanker yang terkena hantaman proyektil yang identitasnya belum terkonfirmasi.
"Kami telah menerima laporan mengenai sebuah kapal tanker yang dihantam proyektil tak dikenal di posisi sekitar 15 kilometer di sebelah timur wilayah Limah, Oman," demikian konfirmasi yang dikeluarkan oleh UKMTO pada hari Senin.
Dampak langsung dari berita penembakan ini terlihat pada pasar energi global. Harga minyak mentah jenis Brent mengalami kenaikan sebesar 0,4%, bergerak menuju level harga US$72,25 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut menegaskan kembali tingginya persepsi risiko keamanan yang kini menyelimuti koridor perairan internasional yang sangat vital bagi suplai energi dunia tersebut.
Secara waktu, serangan ini terjadi bertepatan dengan persiapan Presiden Donald Trump untuk berangkat menuju Ankara, Turki. Keberangkatan tersebut dalam rangka menghadiri Pertemuan Puncak (KTT) para pemimpin NATO yang akan datang.