BISNIS.HOTNEWS.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan kepastian mengenai kondisi iklim di Tanah Air. Mereka menegaskan bahwa Indonesia berada dalam posisi aman dan tidak berpotensi diterpa gelombang panas (heatwave) dengan karakteristik ekstrem seperti yang tengah melanda beberapa negara di benua Eropa.
Meskipun demikian, masyarakat sering merasakan suhu yang sangat terik dan gerah di berbagai wilayah Indonesia. BMKG menjelaskan bahwa sensasi panas tersebut dipicu oleh faktor-faktor meteorologis dan klimatologis yang berbeda dari fenomena gelombang panas di Eropa.
Hal ini disampaikan langsung oleh Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam keterangan resminya. Penjelasan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang akurat kepada publik mengenai perbedaan dinamika cuaca antara Indonesia dan Eropa.
Secara klimatologis, Ardhasena menggarisbawahi bahwa Indonesia memiliki bentang alam unik yang meminimalkan peluang terjadinya gelombang panas ekstrem. Karakteristik geografis sebagai negara kepulauan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas suhu udara sepanjang tahun.
"Secara klimatologis, Indonesia tidak berpotensi mengalami gelombang panas (heatwave) ekstrem dengan karakteristik yang sama seperti di Eropa. Meskipun Indonesia sering mengalami cuaca yang terasa sangat terik dan gerah, fenomena tersebut memiliki penyebab dan karakteristik yang berbeda," ujar Ardhasena kepada Bloomberg Technoz, Selasa (7/7).
Faktor penstabil suhu utama berasal dari keberadaan lautan yang mengelilingi sebagian besar wilayah Indonesia. Ardhasena memaparkan data bahwa sekitar 70% wilayah yurisdiksi Indonesia didominasi oleh perairan laut.
Laut bertindak sebagai penyerap panas alami atau yang dikenal sebagai thermal buffer. Proses penyerapan panas oleh laut berlangsung secara bertahap, kemudian panas tersebut dilepaskan melalui penguapan, menjaga suhu di daratan agar tidak melonjak drastis.
Berkat peran lautan ini, suhu udara di daratan Indonesia cenderung lebih stabil. Hal ini berbeda signifikan dengan kawasan Eropa yang banyak terdiri dari daratan luas, di mana suhu kerap melampaui ambang batas 40 derajat Celsius saat terjadi gelombang panas.
Perbedaan mendasar lainnya terletak pada dinamika atmosfer di wilayah ekuator Indonesia. Ardhasena menjelaskan bahwa pemicu gelombang panas di Eropa umumnya berbeda dengan apa yang dialami Indonesia.