BISNIS.HOTNEWS.ID - Pasar saham di kawasan Asia diperkirakan akan menunjukkan pergerakan positif pada perdagangan hari Jumat, 12 Juni 2026. Penguatan ini merupakan respons langsung terhadap sentimen optimis yang sebelumnya telah terbangun di bursa Wall Street.
Sentimen positif tersebut dipicu oleh pernyataan mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump mengindikasikan bahwa kedua negara, AS dan Iran, semakin mendekati tercapainya sebuah kesepakatan penting.
Harapan akan berakhirnya ketegangan melalui jalur diplomasi ini menjadi faktor utama yang meredakan gejolak pasar global beberapa waktu terakhir. Perkembangan ini memberikan angin segar bagi para investor di Asia.
Kontrak berjangka (futures) untuk indeks saham utama di Jepang, Australia, dan Hong Kong semuanya menampilkan indikasi kenaikan menjelang pembukaan sesi perdagangan. Hal ini menunjukkan antisipasi pasar yang positif.
Di Amerika Serikat, kontrak saham juga bergerak naik tipis, mengikuti kinerja positif hari sebelumnya di mana indeks S&P 500 melonjak 1,8% dan Nasdaq 100 mencatat kenaikan signifikan sebesar 3,3%. Sektor teknologi menjadi penopang utama kenaikan tersebut.
Secara spesifik, Indeks Semikonduktor Philadelphia menunjukkan kinerja yang luar biasa, meroket hampir 8%, yang menggarisbawahi apresiasi pasar terhadap sektor teknologi yang lebih luas. Selain itu, SpaceX juga mencetak sejarah baru melalui penawaran saham perdana (IPO) terbesar yang pernah tercatat.
Di sisi komoditas, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) justru mengalami penurunan tajam sebesar 2% pada awal perdagangan hari ini. Sementara itu, minyak mentah Brent sudah lebih dulu anjlok lebih dari 4% pada hari Kamis.
Penurunan signifikan pada harga komoditas energi ini terjadi setelah Presiden Trump memutuskan untuk menarik kembali ancaman serangan militer yang sempat ia lontarkan terhadap Iran. Keputusan ini membuka ruang negosiasi yang lebih tenang.
Trump menyampaikan bahwa proses "pembicaraan" telah berhasil dilaksanakan dan sudah "disampaikan ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran" demi mengakhiri konflik melalui jalur negosiasi. Hal ini menandakan perubahan strategi signifikan dari Washington.