BISNIS.HOTNEWS.ID - Pasar keuangan Tanah Air mengawali pekan ini dengan pergerakan rupiah yang menunjukkan tren pelemahan di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF).
Pada Senin (27/7/2026) pukul 07:49 WIB, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.987 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,13%, sebuah pembalikan arah setelah sempat mencatat penguatan 0,54% pada sesi perdagangan Jumat sebelumnya.
Perkembangan di pasar energi global turut mewarnai sentimen pasar hari ini. Harga minyak dunia dilaporkan mulai menunjukkan stabilitas, mereda ke level US$92,16 per barel.
Kondisi ini dipicu oleh sikap menahan diri dari Amerika Serikat dan Iran dalam merespons aksi saling balas, yang secara efektif meredakan kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, indeks dolar AS juga mengalami sedikit koreksi, terpangkas 0,17% menjadi 101,29. Pelemahan indeks dolar ini sejalan dengan meredanya tensi konflik global, yang memberikan sedikit ruang penguatan bagi sebagian mata uang di kawasan Asia yang perdagangannya telah dibuka.
Beberapa mata uang Asia menunjukkan performa positif. Yen Jepang memimpin dengan penguatan 0,13%, diikuti oleh dolar Singapura, yuan offshore, dan won Korea Selatan, meskipun penguatannya relatif terbatas.
Namun, di balik penguatan yen Jepang, muncul kekhawatiran terkait kebijakan fiskal di negara tersebut. "Jika tekanan dari pemerintah membuat Bank of Japan (BOJ) menunda kenaikan suku bunga lebih lanjut, kekhawatiran terhadap inflasi akan meningkat dan semakin menekan nilai tukar yen," ujar Marito Ueda, Presiden SBI FX Trade.
Kutipan tersebut memperlihatkan adanya pandangan dari pelaku pasar mengenai potensi dampak kebijakan domestik terhadap stabilitas mata uang yen.
Dikutip dari Bloomberg, pergerakan mata uang Asia ini mencerminkan dinamika pasar yang kompleks, di mana faktor geopolitik dan kebijakan moneter domestik saling bersinggungan.