BISNIS.HOTNEWS.ID - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Sekretaris Jenderal Antonio Guterres telah menyuarakan urgensi untuk mulai mengukur dampak signifikan yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) terhadap kondisi iklim dan alam global.
Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap pertumbuhan pesat kebutuhan komputasi yang digunakan oleh sistem AI, yang membutuhkan sumber daya energi dan infrastruktur yang besar.
Pengumuman ini disampaikan secara resmi oleh Guterres saat menghadiri acara penting di London Climate Action Week yang dilaksanakan pada hari Selasa lalu.
Dalam kesempatan tersebut, PBB mengumumkan rencana konkret untuk meluncurkan sebuah inisiatif baru yang berfokus pada peningkatan transparansi lingkungan yang terkait dengan pemanfaatan teknologi AI.
Guterres secara tegas menyerukan kepada semua pelaku utama industri teknologi untuk mengambil tanggung jawab lebih besar terkait jejak ekologis operasional mereka.
"Saya menyerukan kepada setiap perusahaan AI besar untuk mengukur dan secara terbuka mengungkap dampak lingkungan penuh dari sistemnya, termasuk jejak karbon, air, dan lahan," kata beliau.
Lebih lanjut, Guterres menetapkan target waktu yang ambisius bagi para penyedia layanan komputasi awan skala besar atau hyperscaler.
Mereka diminta untuk berkomitmen penuh agar seluruh operasional pusat data mereka dapat sepenuhnya ditenagai oleh sumber energi terbarukan paling lambat pada tahun 2030 mendatang.
Komitmen ini juga ditegaskan sebagai upaya untuk mencegah pembebanan dampak lingkungan kepada pihak yang paling rentan secara ekonomi.