BISNIS.HOTNEWS.ID - Presiden Bangladesh, Mohammed Shahabuddin, dikabarkan akan melepaskan jabatannya pada Jumat, 24 Juli mendatang. Keputusan ini diambil atas dasar pertimbangan kesehatan yang mendesak.
Hal ini dikonfirmasi oleh juru bicara kepresidenan, yang menyatakan bahwa kondisi kesehatan Presiden Shahabuddin tidak lagi memungkinkan baginya untuk menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Ia membutuhkan waktu untuk perawatan dan istirahat.
Jabatan Presiden di Bangladesh umumnya memiliki peran yang lebih bersifat seremonial. Pengunduran diri ini terjadi jauh sebelum masa jabatan Presiden Shahabuddin yang seharusnya berakhir pada April 2028.
Keputusan pengunduran diri ini muncul setelah mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina mengumumkan rencananya untuk kembali ke Bangladesh pada bulan Desember mendatang.
"Akibat penyakit yang dideritanya, beliau tidak lagi memungkinkan untuk menjalankan tugas-tugasnya. Beliau membutuhkan perawatan dan istirahat," ujar Sarwar Alam, sekretaris pers presiden, kepada Bloomberg News melalui sambungan telepon.
Presiden Shahabuddin tetap memegang tampuk kekuasaan setelah Sheikh Hasina lengser dari jabatannya pada Agustus 2024. Peristiwa ini dipicu oleh gelombang protes besar yang melibatkan kalangan pemuda.
Selama masa transisi pasca-lengsernya Hasina, Presiden Shahabuddin turut mengawasi jalannya proses politik. Transisi ini kemudian berujung pada penyelenggaraan pemilihan umum.
Pemilihan umum tersebut akhirnya mengantarkan Tarique Rahman ke tampuk kekuasaan di Bangladesh.
Dikutip dari Bloomberg, Presiden Shahabuddin merupakan sekutu lama dari mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina yang kini telah mengakhiri masa jabatannya.