BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) telah melahirkan sebuah tren bisnis baru yang sangat menguntungkan, yaitu munculnya influencer virtual atau avatar digital. Tren ini menunjukkan bahwa karakter non-manusia kini mampu meraup pendapatan signifikan melalui kemitraan dengan berbagai merek terkemuka di dunia.

Salah satu contoh paling menonjol dari fenomena ini adalah Lil Miquela, sebuah influencer virtual yang memiliki basis pengikut masif di platform Instagram. Karakter digital ini telah berhasil membangun portofolio kerja sama dengan merek-merek global ternama seperti Prada, Calvin Klein, Samsung, dan PacSun.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Jakarta, karakter digital Lil Miquela dilaporkan telah menghasilkan pendapatan rata-rata sekitar US$2 juta per tahun sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2016. Angka ini setara dengan kurang lebih Rp35,68 miliar per tahun berdasarkan kurs saat ini.

Keberhasilan ini tidak hanya terjadi di Amerika Utara; di Brazil, influencer virtual bernama Lu do Magalu juga menunjukkan performa luar biasa. Karakter ini telah bertransformasi menjadi salah satu aset pemasaran paling vital bagi perusahaan ritel raksasa, Magazine Luiza.

Lu do Magalu tercatat berhasil mengumpulkan pemasukan sekitar US$2,5 juta, atau setara Rp44,6 miliar, setiap tahunnya hanya dari unggahan yang disponsori. Hal ini menjadikan Lu do Magalu sebagai salah satu influencer non-manusia paling sukses secara finansial di kancah global.

Popularitas influencer AI ini didorong oleh sejumlah keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi oleh selebriti manusia. Karakter virtual menawarkan stabilitas dan kontrol penuh dalam setiap kampanye pemasaran yang dijalankan.

"Karakter digital tidak menua, tidak terlibat skandal, tidak memiliki jadwal yang bentrok, dan dapat diproduksi dalam berbagai bahasa serta format konten tanpa batasan fisik," demikian poin utama yang mendasari daya tarik mereka bagi para pemasar.

Menurut SUCCESS, karakter digital tersebut telah menghasilkan rata-rata sekitar US$2 juta (setara Rp35,68 miliar) per tahun sejak pertama kali diperkenalkan pada 2016.

Keuntungan lain yang ditawarkan adalah konsistensi citra merek yang terjaga, karena setiap gerak-gerik dan penampilan avatar sepenuhnya dapat dikendalikan oleh agensi atau perusahaan yang menaunginya.