BISNIS.HOTNEWS.ID - Gelombang kekhawatiran baru muncul di perairan internasional setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Laut Merah. Klaim ini memperluas potensi garis pertempuran dalam dinamika konflik yang melibatkan Iran.
Insiden ini terjadi hanya beberapa menit sebelum pernyataan Houthi dirilis pada hari Rabu (22/7). Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa nahkoda salah satu kapal tanker telah mengonfirmasi serangan yang dialami armadanya.
Serangan tersebut dilaporkan terjadi di wilayah perairan barat daya Al Shuqaiq, sebuah kawasan pesisir Laut Merah yang berada di bawah yurisdiksi Arab Saudi. Hingga kini, pihak pemerintah Arab Saudi belum mengeluarkan komentar resmi terkait insiden yang terjadi.
Laut Merah memegang peranan krusial sebagai rute alternatif vital untuk ekspor minyak mentah, terutama yang berasal dari Arab Saudi. Rute ini menjadi semakin penting mengingat adanya gangguan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Dampak langsung dari peristiwa ini terlihat pada pergerakan harga minyak mentah global. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak menembus US$95 per barel dalam perdagangan setelah penutupan pasar.
Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat juga mengalami kenaikan signifikan, yaitu hingga 1,8% pada awal perdagangan Kamis. Harga minyak mentah AS ini diperdagangkan di atas US$88 per barel.
Kelompok Houthi, yang merupakan klan dari Yaman utara dan mendapat dukungan dari Iran, sebelumnya telah tercatat mengganggu jalur pelayaran internasional. Gangguan ini dilakukan melalui serangkaian serangan drone dan rudal.
Aksi-aksi serangan tersebut sempat terhenti seiring dengan adanya kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Mei 2025. Namun, klaim serangan terbaru ini mengindikasikan kemungkinan terbukanya kembali ancaman tersebut.
"Nahkoda sebuah kapal tanker mengonfirmasi bahwa kapalnya diserang di barat daya Al Shuqaiq," demikian laporan yang diterima dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).