BISNIS.HOTNEWS.ID - PT Ursa Aero Indonesia, yang juga dikenal sebagai Ursa Aeronautical Technology, secara resmi mengumumkan kesiapan Indonesia untuk mengadopsi era baru dalam sektor logistik udara tanpa awak. Pengumuman ini didasarkan pada selesainya proses krusial mengenai armada Unmanned Aircraft System (UAS) Hongyan HY-100.

Pencapaian ini diukur melalui rampungnya proses Validasi Type Certificate atau Sertifikat Tipe untuk pesawat tanpa awak HY-100 tersebut. Proses validasi ini merupakan langkah penting dalam memastikan kelaikan dan keamanan operasional sistem tersebut di wilayah Indonesia.

Keberhasilan ini menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam pengembangan industri kedirgantaraan domestik dan global. Kehadiran armada UAS ini dinilai sebagai terobosan signifikan bagi kemajuan teknologi penerbangan di Tanah Air.

Country Director Ursa Aeronautical Technology, Tendi Febrian, menyatakan pandangannya mengenai pentingnya pencapaian ini. Ia menekankan bahwa HY-100 bukan sekadar drone biasa, melainkan sebuah pencapaian teknologi yang substansial.

Lebih lanjut, HY-100 tercatat sebagai pesawat udara tanpa awak kargo kelas berat pertama di dunia yang kini telah mendapatkan sertifikasi resmi untuk beroperasi. Ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pionir dalam pengembangan ekonomi rendah ketinggian (low-altitude economy) secara global.

"Rampungnya proses validasi oleh DKPPU (Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara) ini menjadi tonggak sejarah penting," ujar Tendi Febrian.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa institusi pemerintah terkait telah memberikan persetujuan resmi terhadap standar operasional pesawat nirawak tersebut. Ini menunjukkan adanya regulasi yang kuat mendukung inovasi.

Tendi Febrian juga menambahkan bahwa validasi ini menjadi bukti konkret kesiapan Indonesia dalam menyambut perubahan paradigma logistik. "Ini membuktikan bahwa Indonesia sangat siap dan adaptif dalam menyambut era baru pemanfaatan teknologi pesawat udara nirawak komersial yang aman, berstandar tinggi, dan teregulasi dengan baik," tutup Tendi.

Kesimpulan dari validasi sertifikat ini adalah bahwa Indonesia kini memiliki landasan hukum dan teknis yang kuat untuk mengintegrasikan sistem logistik tanpa awak ke dalam rantai pasok komersial nasional.